Sabtu, Oktober 23, 2010

Akses Air Bersih dan Sanitasi, Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat


AIR- merupakan kebutuhan mendasar bagi semua makhluk hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memerlukan air untuk minum, mandi, cuci, masak dan sebagainya. Sedangkan keberadaan sanitasi yang bersih dan sehat juga tidak bisa dianggap remeh keberadaannya. Sayang, tidak semua orang bisa mengakses air bersih dan mendapatkan sanitasi yang memadai untuk kebutuhan hidup.
Air yang notabene nya diciptakan Tuhan, dikelola oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk rakyat, rupanya saat ini telah menjadi barang mahal saja. Jika kita lihat, masih banyak orang yang harus merogoh kocek dalam hanya untuk mendapatkan satu liter atau se-jerigen air. Selain itu, banyak daerah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia masih mengalami kesulitan untuk memperoleh air.
Hal ini disebabkan lantaran topografi daerah tersebut, sehingga membutuhkan system infrastruktur pasokan air bersih untuk memungkinkan masyarakat sekitar agar dapat mengakses air bersih tersebut. Bayangkan saja, bila kita harus berjalan ratusan meter hanya untuk mendapatkan air seperti yang dirasakan warga NTT. Mereka mesti menempuh jarak 700 meter dengan lama waktu 46 menit dan jalanan yang tidak rata untuk memperoleh air bersih. Sungguh memprihatinkan, bukan???
Masalah lain yang menjadi PR untuk kita bersama adalah air bersih yang sejatinya menjadi sumber kehidupan warga sekitar, kini sudah tercemar dan berubah warna hitam pekat, sehingga tidak layak lagi untuk mandi, cuci dan minum. Sedangkan untuk masalah sanitasi, ternyata ada kira-kira 20% penduduk Indonesia yang masih buang air besar sembarangan. Kondisi ini tentunya mengakibatkan pencemaran pada lingkungan dan berimbas pada buruknya kesehatan warga. Padahal antara akses air bersih, sanitasi, kesehatan lingkungan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pra sejahtera merupakan hal penting dan saling terkait. Air merupakan kehidupan, sanitasi adalah martabat dan keduanya mendukung tercapainya kesehatan lingkungan yang pada akhirnya turut memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia.Untuk Seluruh Masyarakat
Seperti yang dilansir melalui website resmi pekerjaan umum belum lama ini, Mantan duta besar Millenium Development Goals (MDGs) Asia Pasifik, Erna Witoelar, mengatakan, dalam mempercepat peningkatan pelayanan air minum dan sanitasi kepada masyarakat, pihaknya sangat menyambut baik dengan diterapkannya konsep multi pihak dalam pembangunan sarana air minum dan sanitasi di Indonesia.
MDGs memiliki komitmen bersama para anggota negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengurangi separuh porsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi pada 2015. Erna mengungkapkan, agar upaya pemerintah dalam peningkatan layanan air minum dan sanitasi tidak sebatas demi memenuhi target MDGs saja.Cakupan pelayanan air minum secara nasional baru 24 persen.
Jumlah tersebut masih jauh dari target sasaran MDGs yang mencapai 80 persen pada sektor air minum. Sedangkan untuk sektor sanitasi, cakupan akses nasional terhadap sanitasi dasar rata-rata nasional telah mencapai 80 persen. Jumlah ini rupanya telah melewati target MDGs yang hanya 74 persen. "Namun, hal tersebut baru sebatas pada tahap kuantitas dan belum soal kualitas", ujar Erna.
"Target yang dikejar jangan cuma untuk separuh penduduk, tapi untuk semuanya", tambahnya. Sebagai contoh, Erna mengungkapkan, Malaysia menargetkan pelayanan 100 persen air minum dan sanitasi kepada masyarakatnya pada tahun 2010 dan tampaknya hal tersebut bisa segera dicapai. Tidak berbeda jauh dengan Malaysia, Vietnam pun menargetkan tahun 2012 untuk mencapai pelayanan tersebut.
Peningkatan pelayanan air minum dan sanitasi membutuhkan peran serta banyak pihak. Hal itu bisa ditunjukkan pihak swasta melalui program CSR dan partisipasi langsung dari masyarakat sangat mutlak dibutuhkan, agar pelayanan air bersih dan sanitasi bisa dijalankan secara merata dan tidak ada lagi kesenjangan diantara mereka.CSR Akses Air Bersih Sanitasi
Kurangnya penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang memadai di Indonesia terutama didaerah-daerah terpencil, mendorong sejumlah perusahaan memfokuskan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) pada bidang kesehatan, seperti penyediaan sarana air bersih serta sanitasi. Tujuannya tak lain, agar masyarakat di daerah bisa meningkatkan pola hidup bersih dan sehat lewat fasilitas tersebut.
Sustainable Development Social Responsibility Danone Aqua, Binahidra Logiardi, menjelaskan, pihaknya memiliki program CSR yakni WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) yang bertujuan untuk meningkatkan lingkungan bagi masyarakat pra sejahtera."Kami berkontribusi secara aktif dan berkelanjutan untuk memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di Indonesia", paparnya.Salah satu program WASH yang belum lama ini diluncurkan kembali untuk komunitas jangka panjang adalah "1 liter Aqua untuk 10 liter Air Bersih" atau lebih dikenal dengan "Satu untuk Sepuluh". Program ini bertujuan untuk memperomosikan hidup sehat dengan menyediakan akses air bersih dan pendidikan kesehatan. Program yang telah memasuki tahap kedua ini, masih akan difokuskan ke daerah-daerah efi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekitar 12 ribu lebih warga di beberapa desa di Kecamatan Boking dan Amana-tun Utara NTT telah menerima bantuan akses air bersih untuk tahap pertama."Sedangkan tahap kedua, target menjangkau 18.900 penerima bantuan di desa-desa Kecamatan Boking, Amanatun Utara, Toianas dan Noebana di NTT", ungkap Baskorohadi Sukatmo, Brand Director Danone Aqua. Dalam menjalankan program ini, Danone Aqua bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional, Action Contre la Faim (ACF).
Sejumlah perusahaan dan organisasi lain pun tidak menutup mata akan berbagai permasalahan masyarakat Indonesia menyangkut tak tersedianya akses air bersih dan sanitasi yang memadai, seperti Indonesia Business Links (IBL). Melalui program CSR for Better Life, IBL ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha untuk bersama memberikan solusi untuk mengatasi masalah akses air bersih, sanitasi serta pola hidup bersih sehat, "Problem air bersih di Indonesia memang mengkhawatirkan. Untuk mengatasi masalah ini harus dilakukan secara strategis dengan melibatkan berbagai pihak", ungkap Yanti Koestoer, Direktur Eksekutif IBL.Vq.
*From Harian Ekonomi Neraca, Saturday