Sabtu, Juli 17, 2010

Toilet Sehat, Kok Tak Aman?


Toilet umum kini jadi perhatian. Ini gara-gara ada orang iseng merekam aktivitas artis Feby Febiola saat buang air kecil di toilet sebuah mal di Jakarta akhir Juni lalu. Ternyata banyak toilet umum yang belum aman dari aksi iseng tersebut kendati berada di pusat pertokoan mewah. Bagaimana dengan kondisi toilet umum tempat lainnya?


Mungkin kejadian sejenis telah berlangsung lama. Hanya saja para korbannya tidak berani melaporkan aksi iseng tersebut atau tidak tahu bahwa aktivitasnya sedang direkam olah orang lain. Kondisi beberapa toilet umum yang terbuka memungkinkan aksi iseng terjadi.
Tindakan Feby Febiola menggugah kesadaran baru terhadap toilet umum. Paling tidak dengan melaporkan Yoga, seorang mahasiswa ini ke polisi, jumlah orang iseng akan berkurang. Lebih dari itu, toilet umum akan menjadi perhatian.


Fakta menunjukkan rata-rata toilet umum tidak tertutup rapat, baik atas atau bawah. Adanya celah ini, apalagi jika toilet pria dan wanita tidak dipisahkan, akan mengundang keisengan. Soalnya ada kesempatan. Tanpa harus melongok langsung, orang iseng bisa merekam aktivitas orang di sebelahnya dengan kamera/telepon seluler melalui celah tersebut seperti yang dilakukan Yoga ini.


Inilah yang membuat banyak kalangan mengusulkan agar segera dicari disain toilet yang bisa melindungi penggunanya dan menjamin keamanannya. Tidak sekadar bersih dan sehat saja.
Belakangan polisi meminta kepada pengelola mal untuk menyediakan kamera pengintai (CCTV) di depan pintu-pintu toilet. Ini untuk menggantikan peran pihak keamanan yang tidak selamanya berada di sekitar toilet. Dengan kamera itu aparat keamanan gedung-gedung besar bisa memantau situasi sehingga bisa melakukan tindakan preventif bila ada orang iseng akan beraksi.


Di beberapa lokasi, toilet terpisah sama sekali antara pria dan wanita. Bahkan letaknya cukup jauh. Ini paling tidak bisa mencegah keisengan-keisengan tersebut.
Nah bagi toilet yang masih bercampur baur peruntukannya--untuk pria dan wanita--perlu mendesain ulang layout-nya agar lebih tertutup tapi tetap mempertahankan sisi higienitasnya. MJ.sanitasi.or.id

Temuan Monitoring Otonomi Daerah 2010 Parameter Sanitasi

Written by Jawa Pos Thursday, 15 July 2010.

Parameter sanitasi fokus pada upaya-upaya pemda untuk mendorong perubahan perilaku sanitasi masyarakat dan pencapaian sanitasi total.
Secara operasional, terdapat tiga indikator utama parameter sanitasi.
Pertama, upaya-upaya peningkatan permintaan (demand) sanitasi serta kebersihan rumah tangga dan masyarakat. Peningkatan permintaan merupakan bentuk rekayasa sosial pemda guna menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi serta kebersihan.
Kedua, usaha-usaha untuk mengembangkan dan memasok (supply) produk dan pelayanan sanitasi. Yakni, usaha memenuhi permintaan sanitasi serta kebersihan masyarakat melalui fasilitas pengembangan produk dan pelayanan sanitasi yang sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Terakhir, setiap kegiatan dan kebijakan pemda untuk menciptakan lingkungan yang mendukung (enabling environment) perbaikan sanitasi masyarakat dan pencapaian sanitasi total.
Secara kultural, pemda berupaya membangun koalisi sanitasi sehat dengan berbagai stakeholder yang berpotensi mendorong perbaikan sanitasi masyarakat. Secara struktural, pemda bisa membuat regulasi lokal yang mendorong percepatan perbaikan sanitasi.
Pemda semakin realistis menghadapi problem sanitasi yang buruk. Kebijakan perbaikan sanitasi mengarah pada penyelesaian akar persoalan sanitasi. Yakni, menuju pada usaha-usaha perubahan perilaku sanitasi buruk masyarakat.
Kebijakan daerah di Jawa Timur, terutama kabupaten, fokus pada upaya-upaya peningkatan permintaan sanitasi sehat. Hingga 2009, seluruh kabupaten telah menjalankan kegiatan dan kebijakan guna meningkatkan kesadaran serta kebutuhan masyarakat akan sanitasi sehat. Meski substansinya sama, setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan upaya tersebut.
Secara umum, peningkatan permintaan sanitasi diawali dengan sosialisasi dan pembentukan fasilitator sanitasi di tingkat kabupaten. Selanjutnya, pembentukan fasilitator di tingkat kecamatan, desa, dan komunitas (dusun). Fasilitator kemudian terjun langsung untuk memicu di komunitas.Fasilitator melibatkan diri pula dalam kegiatan-kegiatan komunitas untuk mendorong pemicuan. Misalnya, yasinan, arisan perangkat, dan pertemuan PKK.
Di Trenggalek, peningkatan kesadaran sanitasi sehat bahkan melibatkan penyuluh agama (modin).Fakta tersebut berbeda dari peningkatan supply. Baru 60 persen daerah yang mengembangkan usaha-usaha untuk memasok produk dan pelayanan sanitasi. Seluruh daerah tersebut mulai melatih tukang-tukang khusus konstruktor sanitasi sehat dan melakukan pengadaan serta peminjaman cetakan kloset.
Melalui inisiatif dinas kesehatan, daerah bahkan mau mendorong kerja sama antara masyarakat dan toko bahan bangunan penyedia kebutuhan untuk membuat jamban sehat. Misanya, yang dilakukan di Pacitan, Kabupaten Pasuruan, Jombang, Trenggalek, dan Lamongan.
Menariknya, di Nganjuk dan Lumajang mulai muncul kontraktor lokal penyedia jamban sehat dengan biaya murah. Pun, pemda melalui PKK bergerak menjadi penyedia dana dan penjamin pinjaman bagi masyarakat yang tidak mampu membiayai pembuatan jamban sehat secara tunai.
Guna menciptakan lingkungan yang mendukung (enabling environment) upaya peningkatan permintaan dan pasokan sanitasi, pemda mengeluarkan keputusan tentang strategi sanitasi total berbasis masyarakat.
Misalnya, yang dilakukan di Lamongan, Jombang, dan Lumajang. Di Pacitan, tiga kecamatan membentuk sekretariat bersama yang dipusatkan di Kecamatan Donorojo untuk percepatan perbaikan sanitasi. Seperti halnya pembentukan sekretariat gabungan (setgab) parpol koalisi di Jakarta, sekretariat bersama itu dimaksudkan untuk saling tukar informasi dan pikiran mengenai perbaikan perilaku sanitasi masyarakat.
Langkah struktural lainnya adalah melalui penetapan sanitasi sebagai target pembangunan. Surabaya, Kota Blitar, dan Kabupaten Malang telah memiliki rencana strategis pembangunan sanitasi.
Pemerintah desa tidak mau ketinggalan. Sejumlah desa di Pacitan, Ponorogo, Nganjuk, dan Kabupaten Pasuruan mengeluarkan peraturan desa (perdes) yang mendukung perubahan perilaku sanitasi masyarakat.
Misalnya, perdes tersebut menetapkan sanksi bagi masyarakat yang masih buang air di luar jamban sehat. Untuk mendukung penuntasan sanitasi buruk, Surabaya, Lumajang, Tuban, Kabupaten Kediri, dan Trenggalek bekerja keras melakukan sensus berbasis komunitas untuk mengetahui status sanitasi masyarakat. Berdasar data hasil sensus tersebut, bisa ditentukan langkah pembangunan sanitasi dan cara mengatasi problem sanitasi buruk.
Beberapa daerah tidak kehilangan akal untuk mendorong percepatan perbaikan sanitasi masyarakat. Di antaranya melalui mekanisme kompetisi dan insentif. Lomba-lomba percepatan pembangunan sanitasi tingkat kecamatan diadakan di Pacitan dan Jombang.
Percepatan pembangunan sanitasi ternyata tidak hanya mengandalkan dinas kesehatan. Beberapa dinas teknis lain ikut terlibat. Misalnya, dinas pekerjaan umum, badan pemberdayaan masyarakat, dinas pendidikan, dan bappeda.
Selain itu, sanitasi telah menjadi bagian dari program pembangunan daerah lainnya. Misalnya, PNPM, bantuan rehabilitasi rumah kumuh, P2KP, sanitasi pesantren, pemberdayaan himpunan penduduk pengguna air minum dan sanitasi (HIPPAMS) desa, serta Gerdu Taskin.
Pelibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan sanitasi masyarakat di kabupaten maupun kota. Khusus di perkotaan, gerakan-gerakan pengelolaan sampah mandiri banyak dilakukan. Di Surabaya dan Sidoarjo, pemda mendorong gerakan sanitasi sehat melalui lomba kebersihan lingkungan antarkampung (RW). Sementara itu, di Kota Probolinggo, badan lingkungan hidup bermitra dengan peguyuban peduli sampah (papesa) untuk mengumpulkan dan mengelola sampah organik.

Rabu, Juli 14, 2010

Krida Bina Lingkungan Sehat dalam Pertihusada IV Provinsi Jawa Tengah







Salam Pramuka!
Gerakan Pramuka mempunyai tugas pokok membina anak dan pemuda agar menjadi kader pembangunan bermoral Pancasila, yang kuat dan sehat jasmanidan rohani. Satuan Karya bakti Husada merupakan sarana dan wahana guna memupuk, mengembangkan , membina dan mengarahkan minat dan bakat generasi muda terhadap kesehatan. Dalam rangka menggalakkan kegiatan Saka bakti Husada di Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung pembagunan kesehatan Jawa Tengah, Pimpinan saka Bankti Husada mengadakan Perkemahan bakti Husada tahun 2010.


Perkemahan bakti satuan karya husada Kwartir Daerah 11 Jawa Tengah tahun 2010 berlangsung 6 - 11 Juli 2010 di Pusat kegiatan Pramuka Candra Birawa Karanggeneng Gunungpati Kota Semarang.


Salah satu kegiatan dalam Pertihusada adalah pendalaman Krida Bina Lingkungan Sehat, yang meliputi Penyehatan Perumahan, Penyehatan makanan dan minuman, Pengawasan Pestisida, Pengawasan Kualitas Air dan Penyehatan Air.



























Sabtu, Juli 10, 2010

EMPAT DUSUN BINAAN PLAN REMBANG MENUJU STOP BABS





Plan Rembang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Rembang mengembangkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah mencakup 30 Desa di 6 Kecamatan yaitu Kragan (4 desa), Sluke (6 desa), Sedan (6 desa), Gunem (8 desa) dan Sale (6 desa). Pemilihan lokasi meliputi akses masyarakat terhadap air bersih tidak mengalami kesulitan, masyarakat mudah diajak bekerjasama dan akomodatif, adanya tokoh panutan yang peduli lingkungan.
Dalam pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Plan Rembang bergerak bersama Pokja AMPL, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan SKPD terkait. Tiga pilar STBM telah dikembangkan yaitu Community Led Total Sanitation/pemicuan stop buang air besar di sembarang tempat (Stop BABS), gerakan cuci tangan pakai sabun dan pengelolaan air minum rumah tangga berupa saringan keramik.
Kegiatan dimulai dengan studi banding ke Desa Panimbo Kabupaten Grobogan yang telah mencapai stop buang air besar di sembarang tempat 100%. Kemudian dilakukan sosialisasi di Desa Dowan meliputi 3 dukuh yaitu Brengkong, Picis dan Dowan. Kemudian dilakukan pemicuan di masyarakat dan pembentukan tim penggerak STBM masing – masing dusun yang dikoordinir oleh kepala dusun desa Dowan.

Tugas Tim Penggerak STBM Dusun adalah
1. Melakukan sosialisasi kepada semua warga dusun sesuai RT dimana tim berada.
2. Melakukan monitoring regular terhadap pelaksanaan program berikut hambatan di lapangan.
3. Melakukan evaluasi bersama terhadap pelaksanaan program STMB di desa dan mencari solusi permasalahan.

Hasil kegiatan
Tiga dukuh di Desa Dowan Kecamatan Gunem yaitu Brengkong, Picis dan Dowan telah stop buang air besar di sembarang tempat 100% alias masyarakatnya telah buang air besar pada tempatnya.Disamping 1 dusun di Desa Woro Kecamatan Kragan. Keberhasilan 3 dukuh ini diharapkan dapat memicu dukuh lainnya serta desa lainnya agar warganya stop buang air besar disembarang tempat.

Tindaklanjut kegiatan:
Personal hygiene di sekolah melalui pendekatan child to child dan memasukan personal hygiene ke dalam peraturan sekolah.
Melanjutkan pemicuan di desa.
Monitoring dan evaluasi CLTS oleh Tim STBM dan Pokja AMPL
Celebration untuk desa yang sudah ODF
Pembuatan peraturan desa dan pengelolaan air.
Workshop terkait pentingnya water protection
Workshop Badan Air Bersih
Ekspose Pokja AMPL.

Selasa, Juli 06, 2010

PAHLAWAN SEPTIC TANK PERAIH KALPATARU



Hanya sedikit orang yang rela bergelut dengan kotoran manusia. Namun Sumadi (39), warga Desa Warujayeng, Kabupaten Nganjuk yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Puskesmas Jatikalen, Nganjuk, memiliki pikiran yang berbeda.
Berawal dari keprihatinannya dengan kondisi lingkungan yang kurang sehat karena kebiasaan masyarakat yang membuang air besar di sungai dan kakus-kakus tradisional, Sumadi pun mengeluarkan ide untuk menyehatkan lingkungannya dengan membuat septic tank.Apa yang dilakukannya bukanlah sebuah hal yang mudah. Meskipun Bapak dua anak ini sudah mulai merintis pengolahan tinja untuk biogas sejak tahun 2001, tapi meyakinkan warga sekitar akan pentingnya septic tank sangat sulit untuk dilakukan. Ditambah lagi dengan latar belakang penduduknya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani kecil dan buruh tani.
Pembuatan septic tank yang mencapai Rp 1,8 juta per unitnya dianggap sangat memberatkan bagi warga. Dengan berbagai macam cara, Sumadi pun menurunkan harga pembangunan sehingga hanya dibutuhkan biaya Rp 850 ribu. Namun hal ini belum mendapatkan tanggapan yang positif dari warga.Melihat kondisi warga yang kurang memungkinkan, Sumadi pun akhirnya memutuskan untuk membangun septic tank gratis bagi mereka, namun endapan tinja dan biogas dari septic tank itu akan diambilnya. Ide inipun disambut baik oleh warga karena dianggap saling menguntungkan.Septic tank ala Sumadi terdiri atas tiga jamban yang merupakan lubang penampungan, peresapan dan biogas yang bisa digunakan dalam kurun waktu 8-10 tahun.
Hasilnya cukup menggembirakan. Saat ini septic tank karya Sumadi sudah menyebar ke berbagai kecamatan di Nganjuk. Sumadi bangga karena berhasil memotivasi warga untuk membudayakan hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan.Dalam salah satu kisah perjuangannya, Sumadi bertutur bagaimana salah seorang warga yang tidak mau dibuatkan septic tank karena rumahnya dekat dengan sungai. Namun karena kebanyakan warga sudah menggunakan septic tank, warga tersebut akhirnya mau untuk dibuatkan septic tank secara gratis.Dari 19 kecamatan di Nganjuk, kini sudah ada 2.800 unit septic tank buatan Sumadi yang dipakai warga. Hasil dari kerja kerasnya ini baru dapat dinikmati Sumadi di tahun 2012 mendatang berupa biogas dan endapat tinja untuk pupuk. Sumadi memang tidak bekerja sendirian untuk menyehatkan lingkungan desanya ini. Ia merangkul pihak lain untuk membiayai pembangunan ribuan septic tank dan usaha pengolahan biogas serta endapan tinja. Bahkan sebagian pupuk olahan dari endapan tinja ini sudah di uji coba pada tanaman bawang merah (brambang). Hasilnya diperoleh brambang yang jauh lebih berkualitas. Dengan pupuk buatannya, 1 kwintal brambang hanya susut 3-4 kg padahal kalau tanpa pupuk brambang bisa susut sampai 40 kg.Septic tank karya Sumadi tidak hanya digunakan warga Kabupaten Nganjuk tapi sudah meluas ke daerah lain di jawa Timur seperti Kediri dan Madiun. Bahkan beberapa daerah di Jawa Tengah sudah mengadopsi karya Sumadi.Atas hasil karya Sumadi yang brilian itulah ia akhirnya mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ir Totok Prastowo dari bagian Lingkungan Hidup pemkab Nganjuk dan juga merupakan salah satu motivator Sumadi mengatakan syarat penghargaan Kalpataru adalah sebuah karya tidak hanya dinikmati warga sekitar tetapi juga warga daerah lain.Semenjak memulai usahanya di tahun 2001, baru pada tahun 2007-lah Sumadi mendapatkan penghargaan untuk pertama kalinya dengan menjadi juara III bidang pelestari lingkungan hidup se-Jatim. Dan pada tahun 2008 karyanya mulai dikembangkan ke Kediri dan kota lainnya. Di tahun 2010 barulah Sumadi memperoleh penghargaan dari Presiden.“Tidak terbayang sebelumnya. Saya yang hanya orang biasa ternyata bisa menjadi tamu khusus presiden di Istana Negara. Saya merasa haru sekali,” ujarnya.Melalui proyek septic tank-nya ini Sumadi berharap warga tidak lagi takut akan penyakit karena kebersihan lingkungannya saat ini sudah terjaga. Warga tidak perlu lagi membuang air besar sembarangan dan bisa merasa malu bila rumahnya tidak ada jamban terutama bila kedatangan tamu.Kesempatan besar sedang menanti Sumadi saat ini. Atas prestasinya tersebut, Sumadi mendapat job sebagai narasumber di berbagai daerah, salah satunya dari Bank Dunia. Ia dianggap berkredibilitas untuk mengembangkan materi pengolahan tinja dan pembuatan biogasnya dan menunjukkannya kepada negara-negara lain yang membutuhkan. Sumadi mengatakan pekerjaan barunya itu akan mulai dijalaninya di bulan Juli 2010 mendatang.Salah satu bukti yang patut kita contoh. Ketekunan Sumadi dalam mengerjakan sesuatu pada akhirnya berbuah manis setelah melahui tahun-tahun yang melelahkan dan penuh dengan tantangan namun ia tak pernah mengenal kata menyerah.

Selasa, Juni 29, 2010

KOMITMEN, KESINAMBUNGAN DAN KONSEKUEN PENGEMBANGAN KABUPATEN/KOTA SEHAT

Pelaksanaan Pengembangan Kabupaten dan Kota Sehat di Provinsi Jawa Tengah mengacu kepada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan NO. 34/2005 & NO. 1138/MENKES/PB/VIII/2005 Tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah NO. 650.05/19/2007 Tentang Pembentukan Tim Pembina Kabupaten/Kota sehat Tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Dalam rangka pembinaan dan persiapan penjaringan minat kabupaten dan kota dalam penilaian kabupaten dan kota sehat 2011 telah diselenggarakan pertemuan koordinasi kabupaten dan kota sehat Provinsi Jawa Tengah pada 24 Juni 2010.
Harapan yang disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah selaku Ketua Tim Pembina Kabupaten dan Kota sehat Provinsi Jawa Tengah adalah adanya komitmen, kesinambungan dan konsekuensi program kabupaten dan kota sehat antara para stakeholder di Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota serta adanya sinkronisasi dalam pengembangan kegiatan menuju kabupaten dan kota sehat.

Strategi yang dapat dilakukan adalah:
Kab./Kota terpilih dengan kegiatan spesifik, sederhana, terjangkau, dapat dilaksanakan secara mandiri dan berkelanjutan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia;
Meningkatkan potensi ekonomi stakeholders kegiatan yang menjadi kesepakatan masyarakat;
Perluasan kegiatan ke kota lainnya atas dasar adanya minat dari kota tersebut untuk ikut dalam pendekatan Kota Sehat;
Meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui Forum dan Pokja Kota Sehat ;
Menggali potensi wilayah dan kemitraan dengan swsata, LSM, pemerintah, legislatif;
Memasyarakatkan pembangunan yang berwawasan kesehatan ;
Meningkatkan promosi dan penyuluhan ;
Membuat jaringan kerja sama antar kota pengembangan (replikasi) kota sehat

Pengalaman dari Forum Kota Salatiga Sehat sebagai penerima penghargaan Swasti Saba Padapa 2009 adalah (Narasumber oleh Ketua Forum Kota Salatiga Sehat Ibu Rossa D Manopo):
Kelembagaan Forum Kota sehat adalah lembaga independen yang mengakomodir aspirasi masyarakat dalam berperanserta membangun Salatiga Sehat. Kelembagaan ini didukung oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (yang bergerak dalam lingkungan hidup, kesehatan,penanggulangan rokok, narkoba, HIV/Aids, anak jalanan), tokoh masyarakat/agama, pendidik,seniman dan dunia usaha.
Forum Komunikasi tingkat Kecamatan telah terbentuk di semua Kecamatan/empat Kecamatan dan Pokja tingkat Kelurahan telah terbentuk di semua Kelurahan dengan melibatkan/beranggotakan PKK, LSM, Remaja/karang taruna, Foum Kesehatan Kelurahan.
Pembinaan Forum oleh Walikota bersama satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Penjadwalan penilaian Kabupaten dan kota Sehat 2011 adalah:
  • Juli - September 2010 : Persiapan Kabupaten dan Kota.
  • Oktober - November 2010 : Verifikasi usulan Kabupaten dan Kota yang telah mengusulkan penilaian kabupaten dan kota sehat.
  • Desember 2010 : Usulan Kabupaten dan kota untuk dilakukan verifikasi Tim Kabupaten dan Kota sehat Tingkat Pusat.
  • Januari - Februari 2011 :Seleksi Tim Pusat
  • Maret - Mei 2011 : Verifikasi Tim Pusat
    Juni - Juli 2011 : Rapat penilaian hasil verifikasi
  • Agustus 2011 : Penetapan pemenang
  • September 2011 : Penyerahan hasil penilaian kepada Mendagri
  • Oktober 2011 : Pengesahan penerima penghargaan
  • November 2011 : Pemberian Penghargaan
seksipl_2010