Tampilkan postingan dengan label perubahan perilaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perubahan perilaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 26, 2011

Siswa Melek Sanitasi, sebuah Harapan Perubahan

siswa_membersihkan_sampahApa yang Anda bayangkan jika anak-anak Indonesia tumbuh dalam keluarga yang tidak memiliki akses sanitasi layak? Pasti mereka mengalami kondisi yang kurang baik. Paling tidak, mereka memiliki kebiasaan buruk. Nah, kalau kebiasaan buruk ini terus berlangsung maka akan terinternalisasi dalam perilaku kehidupan mereka hingga dewasa. Tentu ini akan menyulitkan upaya untuk mempercepat pembangunan sanitasi di Indonesia.

Saat ini, penduduk yang memiliki akses sanitasi layak baru mencapai 51,2 persen. Dengan jumlah itu, diperkirakan hampir 50 persen anak-anak Indonesia tumbuh dalam rumah tangga yang belum memiliki akses sanitasi layak.

Maka menjadi penting, bagaimana menjadikan anak-anak ini sebagai obyek bagi penyadaran akan pentingnya sanitasi bagi kehidupan mereka dan keluarganya. Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk itu adalah melalui sektor pendidikan.

Mengapa? Persoalan sanitasi yang utama adalah perilaku. Dan anak adalah obyek yang mudah dibentuk melalui proses edukasi dan advokasi. Internalisasi perilaku yang baik terkait sanitasi akan menjadikan anak sebagai agen perubahan di keluarga dan masyarakat di sekitarnya secara signifikan.

Bayangkan jumlah siswa di Indonesia lebih dari 32, 3 juta (http://nisn.jardiknas.org, Juli 2010), mulai tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Kalau mereka semua melek terhadap sanitasi dan kemudian menjadi agen perubahan ke arah perilaku yang baik, hasilnya akan luar biasa.

Tentu, semuanya butuh waktu. Mereka tidak bisa dididik secara instan. Ingat, bahwa perilaku menyangkut kebiasaan. Butuh penyadaran dan pembiasaan secara terus menerus khususnya di sekolah. Ini bukan pekerjaan mudah karena bagi mereka yang di rumah belum memiliki akses sanitasi yang baik, benturan akan terjadi.

Di sinilah, perubahan perilaku anak memang mau tidak mau harus menyertakan para guru secara komprehensif. Guru tidak bisa sekadar mentransfer ‘ilmu sanitasi’ kepada anak didik melalui mata pelajaran dan membiasakan di sekolah, tapi guru pun seharusnya tahu bagaimana kondisi prasarana sanitasi para siswanya di rumah. Ini penting untuk mencari jalan bagaimana ‘menjaga’ pemahaman anak terhadap sanitasi agar tidak berubah manakala mereka menemukan sanitasi yang tidak layak di rumah mereka. Harapannya, merekalah yang mendorong keluarga mereka untuk membangun sanitasi yang layak.

Memang ini bukan pekerjaan kecil. Ini adalah usaha besar dan berkesinambungan. Makanya, program penyadaran sanitasi di sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan anak didik yang melek sanitasi dan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.

Kalau itu terjadi, 32,3 juta anak Indonesia bisa menjadi agen perubahan perilaku di tempat tinggal mereka, pasti sanitasi di Indonesia akan lebih baik. Dan yang terpenting, kualitas anak-anak pun akan meningkat. Inilah potensi besar yang perlu terus digali, menjadikan siswa sekolah sebagai duta sanitasi yang sebenarnya. MJ

Rabu, Juli 28, 2010

Meningkatkan Akses Jamban Tanpa Subsidi

Pencangan hari tahun sanitasi international 2008 rupanya telah membangkitkan semangat masyarakat khususnya pemerintah daerah untuk dapat menuntaskan masalah yang berkaitan dengan sanitasi.

STBM yang digulirkan pemerintah pusat, saat ini dianggap merupakan solusi bagi menangani masalah sanitasi baik dari segi upaya merubah perilaku masyarakat maupun biaya yang dikeluarkan. STBM memiliki 5 pilar yang salah satunya adalah Mencegah Buang Air Besar (BAB) sembarangan.

Tantangan menuntaskan masalah BAB sembarangan yang merupakan perwujudan mensukseskan 5 pilar STBM tersebut disambut dengan antusias di 6 desa area kabupaten Kebumen Jawa Tengah.Salah satu desa yang menerapkan STBM/CLTS adalah Desa Gebangsari.

Desa Gebangsari terletak di Kecamatan Klirong, berpenduduk lebih kurang 497 KK.Pada tahun 2007 tercatat masyarakat yang memiliki jamban hanya 250 KK. Beberapa KK ada yang masih menumpang dan tidak tercatat yang masih BAB Sembarangan.

Sejak Desa Gebangsari ditunjuk pemkab Kebumen, melalui Dinas Kesehatan sebagai daerah piloting CLTS yang akan didampingi Plan Indonesia Program Unit Kebumen pada November 2008, pemerintah desa mulai bebenah untuk menindaklanjuti kegiatan tersebut.

Kesuksesan CLTS di Desa Gebangsari adalah kerja keras tim pemicuan tinja. Tim ini merupakan gabungan dari elemen-elemen desa seperti perangkat desa, BPD, Kader PKK/Yandu, Pensiunan, para Ketua RW dan RT serta masyarakat lain yang peduli terhadap lingkungan. Tidak kurang dari 35 orang calon anggota tim dilatih untuk dapat memahami konsep CLTS yang memiliki prinsip dasar zero subsidi.

Memahamkan sebuah program tanpa subsidi apalagi yang berkaitan dengan merubah perilaku hidup bersih dan sehat bukanlah perkara yang mudah. Khawatir akan ada tuntutan masyarakat mengharap bantuan fisik jamban pun muncul pertama kali dari para kader. Mereka yang mengikuti pelatihan merasa pesimis program ini dapat berjalan di Desa Gebangsari mengingat ada beberapa KK yang sudah berpuluh tahun Buang Air Besar Sembarangan dan sulit diberitahu oleh warga sekitar meskipun bau tinjanya sudah sangat mengganggu warga.

Namun demikian tim fasilitator berupaya terus meningkatkan kepercayaan diri para kader bahwa kita perlu melakukan gerakan bersama yang partisipatif dan melibatkan masyarakat sebagai objek dalam program.

Proses pertama adalah tim yang sudah dilatih memetakan dan mengidentifikasi setiap KK yang belum memiliki jamban. Kemudian setiap tim menentukan KK sasaran berdasarkan tingkat kesulitan untuk merubah perilaku mereka. Setelah itu setiap Tim membaginya sehingga tim memiliki jumlah KK yang akan dipicu.

Proses Kedua adalah dalam menentukan daerah sasaran dilakukan metode cross line yaitu menukar wilayah. Tim tidak bekerja di lingkungan rumahnya sendiri melainkan dipindahkan ke wilayah lain.

Proses ketiga gerakan stop Buang Air Besar Sembarangan dimulai. Kegiatan ini efektif selama 6 bulan. Setiap bulan tim melakukan monitoring dan evaluasi yang dipimpin oleh kepala desa.

Hasilnya bulan November 2008 Desa Gebangsari telah yakin bahwa desanya kini sudah bebas dari BAB Sembarangan. Selanjutnya desa ini bersama desa lain di Kabupaten Kebumen mendeklarasikan diri menjadi desa Bebas ODF ( Open Defecation Free ) pada bulan Januari 2009.

Bebas ODF bukan akhir dari perjalan program STBM. Ini merupakan tantangan baru untuk menyadarkan masyarakat agar dapat memiliki jamban yang lebih sehat. Selamat dan sekses pada semua tim tinja. Semoga lebih termotivasi kembali untuk mendukung gerakan sanitasi total.

oleh : Alit Aviane, ST.*
( * WES Facilitator Plan International Indonesia, Program Unit Kebumen)