Sabtu, Januari 22, 2011

Legionella mewabah di Bali?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus menyelidiki dugaan wabah legionella di Bali setelah dilaporkan ada beberapa turis Australia terkena serangan bakteri tersebut. Bakteri ini menyerang saluran pernafasan.
"Tadi pagi tim baru datang dari Bali dan akan memeriksa sampel di laboratorium kami di Yogyakarta. Mungkin hasilnya seminggu lagi baru ketahuan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE di Jakarta, Rabu.
Selama melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan adanya wabah tersebut, Dinas Kesehatan terkait disebut Tjandra telah melakukan desinfektan terhadap lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat penularan. "Ada dua daerah yang dilakukan desinfektan," katanya.
Tjandra mengungkapkan pihak Kementerian Kesehatan dari Australia telah menghubungi pihaknya mengenai kemungkinan adanya wabah lewat jaringan International Health Regulations (IHR) yang diikuti kedua negara. Adanya jaringan tersebut memang mewajibkan suatu negara untuk melaporkan adanya dugaan kasus wabah agar dapat ditangani dan untuk antisipasi penularan selanjutnya.
Sementara itu, sebanyak 10 orang turis asal Australia telah dipulangkan karena terjangkit penyakit legionella yang merupakan suatu penyakit infeksi disebabkan oleh bakteri Legionella dan menyerang saluran napas di paru-paru.

Sabtu, Januari 15, 2011

Tempat nongkrong favorit kuman di rumah

Kuman seperti virus, bakteri atau jamur bisa hidup di beberapa tempat yang tak terduga oleh manusia, meskipun tempat tersebut terlihat sudah bersih. Mana saja tempat nongkrong kuman paling banyak di rumah?Orang sering menduga kamar mandi tempat paling kotor, ternyata itu salah. Masih ada yang lebih kotor dibanding kamar mandi."Seseorang akan berpikir bisa menjadi sakit jika mengambil suatu barang yang sudah jatuh di kamar mandi. Padahal kamar mandi mungkin menjadi tempat yang lebih bersih dibandingkan dengan wastafel dapur," ujar Eileen bruzzo, direktur pengendalian infeksi di Long Island College Hospital of Brooklyn, New York , seperti dikutip dari WebMD, Rabu (7/4/2010).
Tempat nongkrong kuman paling banyak di rumah adalah:1. Wastafel dapur Partikel makanan yang tertinggal di piring akan dibilas atau direndam hingga terbuang dalam wastafel. Tapi selama perjalanan tersebut kemungkinan bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit seperti E.coli dan salmonella. Bakteri ini dapat menempel di tangan atau menyebar di makanan."Meskipun kebanyakan orang mengambil langkah untuk membasmi kuman yang ada dalam toilet, tapi beberapa wastafel dapur juga harus dipertimbangkan dengan cara pembersihan yang sama. Karena beberapa orang menganggap bahwa tempat tersebut sudah bersih, padahal tidak," ungkap Abruzzo.Abruzzo menyarankan agar selalu membersihkan wastafel dapur untuk mencegah penyebaran kuman. Salah satu caranya bisa dengan mencuci wastafel dapur dengan larutan pemutih dan dibilas menggunakan air setiap harinya, kemudian mengeringkan sisa-sisa yang ada. Selain itu jangan lupa untuk membersihkan sumbatan di wastafel dapur.
2. Sikat gigi.Karena tak banyak orang yang memperhatikan kebersihan dari sikat giginya, banyak orang yang menyimpan sikat gigi dalam keadaan lembab, padahal kondisi ini sangat memungkinkan kuman untuk tumbuh dan berkembang.
3. Remote televisi Karena remote adalah salah satu barang yang paling sering disentuh oleh banyak orang sehingga memudahkan penyebaran kuman. Selain remote televisi, keyboard komputer juga diketahui bisa menjadi penyebar kuman.
4. Kamar mandi yang menjadi tempat penyebaran kuman, karena tempat ini terbilang cukup lembab sehingga menjadi tempat yang baik dan kondusif untuk perkembangbiakan bakteri dan kuman. Karenanya usahakan untuk memberikan sirkulasi yang tepat di kamar mandi sehingga udara di dalamnya tidak terlalu lembab.(ver/ir)Vera Farah Bararah - detikHealth

Rabu, Januari 05, 2011

LANGKAH PERUBAHAN (ODF- Open Defecation Free) Di Pemalang

Kabupaten Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang ikut Program PAMSIMAS. Kabupaten Pemalang terdiri dari 222 Desa/Kota. Alasan ikut PAMSIMAS karena Kabupaten pemalang adalah Kabupaten yang masyarakatnya masih banyak yang kekurangan Air khususnya pada daerah atas, Tingkat kemiskinan masih tinggi, Penyakit Diare juga masih tinggi dan Masih banyaknya warga yang masih BAB Sembarang tempat, salah satunya adalah Desa Cikendung yang ikut Program PAMSIMAS.
Desa Cikendung merupaka salah satu Desa yang ada di Kecamatan Pulosari Kabupaten pemalang yang ikut Program PAMSIMAS Tahun 2008. Sebelum mengikuti program PAMSIMAS masyarakat Desa Cikendung masih banyak yang BAB sembarangan diantaranya di kebun, tutur Kepala Desa Cikendung Bapak Slamet. Karena kerja keras dari Kepala Desa Cikendung, Kader Kesehatan, Bidan Desa dan LKM PAMSIMAS yang dibantu Sanitarian Puskesmas Pulosari Ibu Sri Murbaetin melalui program PAMSIMAS.Desa Cikendung merupakan desa pertama dari 36 desa yang ikut Program PAMSIMAS yang berani mendeklarasikan ODF, yang direncanakan pada bulan Januari 2011.

Selain Desa Cikendung yang ODF,juga ada Desa lain yang sebenarnya sudah mencapai ODF tingkat Desa, yaitu Desa Pulosari, Desa jurangmangu, Desa Nyalembeng, Desa Karangsari,dan Desa Penakir. Untuk Desa yang lain hanya bisa tingkat Dusun yang bisa dikatakan sudah ODF yaitu untuk Desa Tlagasana hanya Dusun Krajan, Desa Karangsari Dusun yang ODF Karangsari Barat dan Dusun Nusa, Desa Gapura yang ODF Dusun Leretan, Majalangu Yang ODF Dusun Majalangu Lor, Desa Cawet Dusun Watugajah, Dan Desa Jojogan Dusun yang ODF Dusun Sindu.

Pencapaian ODF di desa dan di dusun merupakan hasil kerja keras dari semua pihak baik dari sanitarian Puskesmas (Bapak Ismunandar, Bapak Misyuko, Bapak Abdulah, Bapak Harsono, Bu Yuni Parwati, dan Bu Sri Murbaetin, Bu Titi Ekowati) terutama fasilitator kesehatan seperti Mba Nia Kurniasih, Mas Abdul Wachid, dan Mba Eva Hermawati, Hafida Fitrisari (TFM Replikasi), Bidan Desa, dan teman-tTebaleman kader kesehatan yang sudah dilatih.
Keberhasilan ODF tidak lepas dari peran serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang, yang dengan gencarnya melakukan monitoring dan pendampingan untuk pelaksanaan CLTS di Desa-desa PAMSIMAS. “Keinginan saya adalah meng ODF kan Desa-desa yang PAMSIMAS dan NON PAMSIMAS” tutur Kepala Seksi Penyehatan Sanitasi Dasar dan Permukiman (PSDP) Ibu Wiji Mulyati, Bidang PKPL, yang juga keinginan tersebut di Dukung Bapak Ir. Joni selaku Kabid PKPL Dinkes Kab. Pemalang.
Berikut adalah perjalanan Desa-Desa PAMSIMAS di Kab. Pemalang menuju Desa ODF yang pada awalnya dimana masyarakat masih menggunakan sungai, kebun dan kolam untuk tempat Buang Air Besar (BAB), dimasing-masing Desa di Kab. Pemalang.
Kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan sungai untuk buang air besar, dan Jumbleng
yang masih dalam keadaan terbuka.
Pelatihan Bidan desa, Sanitarian Puskesmas, dan Forum Kesehatan Desa (FKD) desa yangmendapat program PAMSIMAS yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang.
Setelah mendapat pelatihan CLTS di Kabupaten pemalang, sanitarian dan FKD mengimplementasikan di tingkat desa untuk melatih kader kesehatan, yang juga di ikuti komponen masyarakat lainnya seperti Tokoh Agama dan Tokoh Asyarakat setempat. Selain Pelatihan koordinasi Tingkat desa dengan Sanitarian Pulosari (Sri Murbaetin, Kepala Desa Karangsari Susi Herningtias serta Koordinator LKM Bapak Subadi untuk melakuka perencanaan
dan pelatihan Kader dalam pelaksanaan CLTS di Dusun yang di anggap masyarakatnya masih
banyak yang BAB sembarangan.
Pelaksanaan CLTS serta Pemetaan Wilayah yang masih digunakan warga untuk BAB, Transect
Walk (jalan-jalan) menuju lokasi yang biasa digunakan warga untuk BAB, Simulasi air yangterkontaminasi kotoran manusia, alur perjalanan penyakit diare yang dilaksanakan oleh
Sanitarian Puskesmas bersama bidan Desa, Kader Kesehatan yang sudah mendapatkan
Pelatihan dan didampingi fasilitator kesehatan. Kegiatan Pemicuan dilakukan di masing-masing
Dusun yang wilayahnya masih digunakan warga untuk BAB sembarang tempat, atau di wilayah
yang masih menggunakan jumbleng yang masih terbuka sehingga di harapkan ada perubahan
atau peningkatan tangga sanitasi yang tadinya terbuka menjadi tertutup.
Penyampaian komitmen dari Kepala Desa dan warga masyarakat yang sudah dilakukan pemicuan CLTS untuk merubah kebiasaan warganya tidak BAB sembarang tempat dengan cara
membangun jamban baik itu leher angsa, maupun Jumbleng dalam kurun waktu 6 bulan sampai
satu tahun., numpang saudara atau tetangga terdekat.
Monitoring yang dilakukan oleh Kader kesehatan dan Natural Leader secara berkala, untuk mengecek warga yang sudah membuat komitmen untuk membangun jamban setelah dilaksanakan CLTS.
Evaluasi pelaksanaan CLTS oleh Kader kesehatan yang dilakukan oleh Koordinator LKM, Kepala Desa dan Bidan Desa, dan dihadiri dari Puskesmas (Kepala Puskesmas, dan Sanitarian), dan dari lintas sector lainnya seperti PKK Kecamatan, PMD Kecamatan.

Selain dengan pemicuan, monitoring dan Evaluasi, pemicuan juga dilakukan dengan memasang
spanduk yang bersifat mengajak dan memicu kepada masyarakat untuk hidup bersih dan sehat yang ditempatkan di tempat-tempat yang strategi, yang mudah dibaca oleh masyarakat yang melewatinya.
Jamban terbangun hasil pemicuan yang dbangun oleh warga. Monitoring dan pemicuan masih tetap dilaksanakan oleh kader kesehatan yang sudah dilatih, LKM PAMSIMAS, serta komponen desa juga ikut berperan aktif untuk meningkatkan cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban,
sehingga bisa memicu masyarakat untuk menghilangkan kebiasaan BAB sembarangan.
dengan cara membangun maupun dengan cara menumpang tetangga atau saudara terdekat.
disarikan dari daisahbeny

Senin, November 29, 2010

GUNUNG JAYA, DESA ODF PERTAMA DI BREBES

Saat pelaksanaan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Indonesia ke – 46 di Kabupaten Brebes yang dipusatkan di Kecamatan Sitanggal, terlihat pemandangan yang berbeda dari pelaksanaan HKN tahun sebelumnya. Peringatan HKN ini bukan hanya dihadiri oleh seluruh komponen bidang kesehatan, tapi juga dihadiri oleh segenap stakeholder dari bidang lain, termasuk di dalamnya adalah petinggi pemerintah Kota Bawang yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan.
Namun bukan semua hal tersebut yang membedakan peringatan HKN kali ini, tetapi tampak seorang Kepala Desa berdiri dengan tegap di antara beberapa petugas kesehatan dan perwakilan sekolah yang memiliki prestasi yang baik dalam bidang kesehatan.
Dia adalah Tuswa Sujatmoko, seorang Kepala Desa Gunungjaya, Kecamatan Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah yang berada di antara barisan orang penerima penghargaan atas segala pencapaian prestasinya.
Kehadirannya sebagai salah satu penerima penghargaan karena desanya, Desa Gunungjaya berhasil memperoleh penghargaan atas prestasinya sebagai desa pertama di Kabupaten Brebes yang memperoleh predikat ODF (Open Defecation Free).
Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Kesehatan Brebes memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada masyarakat Desa Gunungjaya yang diwakili oleh Tuswa Sujatmoko, atas prestasinya membawa Desa Gunungjaya sebagai desa pertama yang masyarakatnya memiliki tingkat kesadaran dan perhatian yang tinggi dalam upaya mewujudkan stop buang air besar sembarangan (STOP BABS). Penghargaan dan ucapan selamat disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Brebes.
Muhtar selaku Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes mengatakan, penghargaan tersebut mungkin nilainya tidak seberapa. Namun yang diharapkan adalah esensi nilai sebagai rasa syukur dan terima kasih serta penghargaan setinggi-tingginya atas segala kerjasama dan kerja keras seluruh masyarakat Desa Gunungjaya dari Pemerintah Kabupaten Brebes.
“Desa Gunungjaya adalah yang pertama dan sebagai pelopor. Mudah-mudahan desa yang lain dapat terpacu dan mencapai ODF pula,” ujar Muhtar
Program Pamsimas di Desa Gunungjaya mulai bergulir pada Juni tahun 2010. Hasil kegiatan identifikasi masalah pada awal program bergulir, cakupan sanitasi di masyarakat Desa Gunungjaya sudah cukup baik. Jumlah kepala keluarga yang memiliki akses terhadap jamban sebanyak 239 atau sekitar 80% dari jumlah keseluruhan kepala keluarga di Desa Gunungjaya.
Besarnya jumlah akses jamban tersebut tidak lepas dari proses relokasi wilayah desa akibat bencana longsor. Proses tersebut memaksa masyarakat untuk membangun rumah yang baru dan lebih baik. Sehingga biasanya ketika membangun rumah baru sudah dilengkapi jamban.
Secara geografis Desa Gunungjaya yang memiliki ketinggian 750 m di atas permukaan laut itu terletak di dataran tinggi wilayah pemerintahan Kecamatan Salem. Karena termasuk wilayah perbukitan dengan curah hujan yang cukup tinggi, karakter tanah di desa ini termasuk yang labil dan mudah longsor.
Dikelilingi Hutan Perhutani dan ladang pertanian terutama sawah dimana jarak dari pusat pemerintahan kecamatan adalah 10 km atau 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor, Desa Gunungjaya memiliki jumlah penduduk sebanyak 970 jiwa dan 286 kepala keluarga (KK). Wilayah pemerintahannya terdiri dari 2 rukun warga (RW) dan 4 rukun tetangga (RT). Sebagian besar penduduknya memiliki mata pencarian sebagai petani. Memiliki 1 Sekolah Dasar (SD) dan 2 Masjid serta 1 Poliklinik desa.
Pencapaian ODF oleh Desa Gunungjaya tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Hasil ini merupakan hasil kerja keras semua pihak terutama Dian (Fasilitator kesehatan), Bidan Yuli, Sanitarian dan rekan kader kesehatan.
“Tentu saja hal ini sangat membanggakan bagi saya pribadi dan masyarakat Desa Gunungjaya. Terlebih kami yang pertama di Kabupaten Brebes yang sudah ODF,” tandas Tuswa Sujatmoko
Tuswa mengatakan, kerjasama antara bidan desa dan kader kesehatan, fasilitator kesehatan serta aparat desa berjalan sinergis. Sehingga apabila ada kesulitan, solusi bisa didiskusikan bersama.
“Saat ini jumlah jamban di Desa Gunungjaya sudah 263 jamban dan melayani 970 jiwa atau 100% penduduk Desa Gunungjaya. Sehingga status ODF sudah dicapai oleh Desa Gunungjaya. Untuk selanjutnya adalah ada langkah atau tindak lanjut dalam menjaga dan memelihara desa yang ODF,” lanjutnya
Kegiatan verifikasi pencapaian ODF desa dilakukan oleh konsultan pendamping, petugas Puskesmas, perwakilan desa dan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes. Verifikasi dilaksanakan terhadap rumah dan kepala keluarga secara acak dan dilakukan secara marathon. Verifikasi pertama dilaksanakan pada 4 Nopember 2010 oleh konsultan pendamping dengan mengunjungi 15 rumah.
Verifikasi kedua dilaksanakan pada 8 Nopember 2010 oleh petugas Puskesmas dan Konsultan pendamping. Sedangkan verifikasi yang ketiga dilaksanakan pada 9 Nopember oleh petugas Puskesmas dan tim dari Dinas Kesehatan Brebes. (Ichwanudin-HHS DMAC Kab. Brebes;Rita)

Sabtu, Oktober 23, 2010

Akses Air Bersih dan Sanitasi, Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat


AIR- merupakan kebutuhan mendasar bagi semua makhluk hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memerlukan air untuk minum, mandi, cuci, masak dan sebagainya. Sedangkan keberadaan sanitasi yang bersih dan sehat juga tidak bisa dianggap remeh keberadaannya. Sayang, tidak semua orang bisa mengakses air bersih dan mendapatkan sanitasi yang memadai untuk kebutuhan hidup.
Air yang notabene nya diciptakan Tuhan, dikelola oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk rakyat, rupanya saat ini telah menjadi barang mahal saja. Jika kita lihat, masih banyak orang yang harus merogoh kocek dalam hanya untuk mendapatkan satu liter atau se-jerigen air. Selain itu, banyak daerah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia masih mengalami kesulitan untuk memperoleh air.
Hal ini disebabkan lantaran topografi daerah tersebut, sehingga membutuhkan system infrastruktur pasokan air bersih untuk memungkinkan masyarakat sekitar agar dapat mengakses air bersih tersebut. Bayangkan saja, bila kita harus berjalan ratusan meter hanya untuk mendapatkan air seperti yang dirasakan warga NTT. Mereka mesti menempuh jarak 700 meter dengan lama waktu 46 menit dan jalanan yang tidak rata untuk memperoleh air bersih. Sungguh memprihatinkan, bukan???
Masalah lain yang menjadi PR untuk kita bersama adalah air bersih yang sejatinya menjadi sumber kehidupan warga sekitar, kini sudah tercemar dan berubah warna hitam pekat, sehingga tidak layak lagi untuk mandi, cuci dan minum. Sedangkan untuk masalah sanitasi, ternyata ada kira-kira 20% penduduk Indonesia yang masih buang air besar sembarangan. Kondisi ini tentunya mengakibatkan pencemaran pada lingkungan dan berimbas pada buruknya kesehatan warga. Padahal antara akses air bersih, sanitasi, kesehatan lingkungan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pra sejahtera merupakan hal penting dan saling terkait. Air merupakan kehidupan, sanitasi adalah martabat dan keduanya mendukung tercapainya kesehatan lingkungan yang pada akhirnya turut memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia.Untuk Seluruh Masyarakat
Seperti yang dilansir melalui website resmi pekerjaan umum belum lama ini, Mantan duta besar Millenium Development Goals (MDGs) Asia Pasifik, Erna Witoelar, mengatakan, dalam mempercepat peningkatan pelayanan air minum dan sanitasi kepada masyarakat, pihaknya sangat menyambut baik dengan diterapkannya konsep multi pihak dalam pembangunan sarana air minum dan sanitasi di Indonesia.
MDGs memiliki komitmen bersama para anggota negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengurangi separuh porsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi pada 2015. Erna mengungkapkan, agar upaya pemerintah dalam peningkatan layanan air minum dan sanitasi tidak sebatas demi memenuhi target MDGs saja.Cakupan pelayanan air minum secara nasional baru 24 persen.
Jumlah tersebut masih jauh dari target sasaran MDGs yang mencapai 80 persen pada sektor air minum. Sedangkan untuk sektor sanitasi, cakupan akses nasional terhadap sanitasi dasar rata-rata nasional telah mencapai 80 persen. Jumlah ini rupanya telah melewati target MDGs yang hanya 74 persen. "Namun, hal tersebut baru sebatas pada tahap kuantitas dan belum soal kualitas", ujar Erna.
"Target yang dikejar jangan cuma untuk separuh penduduk, tapi untuk semuanya", tambahnya. Sebagai contoh, Erna mengungkapkan, Malaysia menargetkan pelayanan 100 persen air minum dan sanitasi kepada masyarakatnya pada tahun 2010 dan tampaknya hal tersebut bisa segera dicapai. Tidak berbeda jauh dengan Malaysia, Vietnam pun menargetkan tahun 2012 untuk mencapai pelayanan tersebut.
Peningkatan pelayanan air minum dan sanitasi membutuhkan peran serta banyak pihak. Hal itu bisa ditunjukkan pihak swasta melalui program CSR dan partisipasi langsung dari masyarakat sangat mutlak dibutuhkan, agar pelayanan air bersih dan sanitasi bisa dijalankan secara merata dan tidak ada lagi kesenjangan diantara mereka.CSR Akses Air Bersih Sanitasi
Kurangnya penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang memadai di Indonesia terutama didaerah-daerah terpencil, mendorong sejumlah perusahaan memfokuskan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) pada bidang kesehatan, seperti penyediaan sarana air bersih serta sanitasi. Tujuannya tak lain, agar masyarakat di daerah bisa meningkatkan pola hidup bersih dan sehat lewat fasilitas tersebut.
Sustainable Development Social Responsibility Danone Aqua, Binahidra Logiardi, menjelaskan, pihaknya memiliki program CSR yakni WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) yang bertujuan untuk meningkatkan lingkungan bagi masyarakat pra sejahtera."Kami berkontribusi secara aktif dan berkelanjutan untuk memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang berkaitan dengan penyediaan air bersih di Indonesia", paparnya.Salah satu program WASH yang belum lama ini diluncurkan kembali untuk komunitas jangka panjang adalah "1 liter Aqua untuk 10 liter Air Bersih" atau lebih dikenal dengan "Satu untuk Sepuluh". Program ini bertujuan untuk memperomosikan hidup sehat dengan menyediakan akses air bersih dan pendidikan kesehatan. Program yang telah memasuki tahap kedua ini, masih akan difokuskan ke daerah-daerah efi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekitar 12 ribu lebih warga di beberapa desa di Kecamatan Boking dan Amana-tun Utara NTT telah menerima bantuan akses air bersih untuk tahap pertama."Sedangkan tahap kedua, target menjangkau 18.900 penerima bantuan di desa-desa Kecamatan Boking, Amanatun Utara, Toianas dan Noebana di NTT", ungkap Baskorohadi Sukatmo, Brand Director Danone Aqua. Dalam menjalankan program ini, Danone Aqua bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional, Action Contre la Faim (ACF).
Sejumlah perusahaan dan organisasi lain pun tidak menutup mata akan berbagai permasalahan masyarakat Indonesia menyangkut tak tersedianya akses air bersih dan sanitasi yang memadai, seperti Indonesia Business Links (IBL). Melalui program CSR for Better Life, IBL ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha untuk bersama memberikan solusi untuk mengatasi masalah akses air bersih, sanitasi serta pola hidup bersih sehat, "Problem air bersih di Indonesia memang mengkhawatirkan. Untuk mengatasi masalah ini harus dilakukan secara strategis dengan melibatkan berbagai pihak", ungkap Yanti Koestoer, Direktur Eksekutif IBL.Vq.
*From Harian Ekonomi Neraca, Saturday