Tampilkan postingan dengan label pemalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemalang. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 05, 2011

LANGKAH PERUBAHAN (ODF- Open Defecation Free) Di Pemalang

Kabupaten Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang ikut Program PAMSIMAS. Kabupaten Pemalang terdiri dari 222 Desa/Kota. Alasan ikut PAMSIMAS karena Kabupaten pemalang adalah Kabupaten yang masyarakatnya masih banyak yang kekurangan Air khususnya pada daerah atas, Tingkat kemiskinan masih tinggi, Penyakit Diare juga masih tinggi dan Masih banyaknya warga yang masih BAB Sembarang tempat, salah satunya adalah Desa Cikendung yang ikut Program PAMSIMAS.
Desa Cikendung merupaka salah satu Desa yang ada di Kecamatan Pulosari Kabupaten pemalang yang ikut Program PAMSIMAS Tahun 2008. Sebelum mengikuti program PAMSIMAS masyarakat Desa Cikendung masih banyak yang BAB sembarangan diantaranya di kebun, tutur Kepala Desa Cikendung Bapak Slamet. Karena kerja keras dari Kepala Desa Cikendung, Kader Kesehatan, Bidan Desa dan LKM PAMSIMAS yang dibantu Sanitarian Puskesmas Pulosari Ibu Sri Murbaetin melalui program PAMSIMAS.Desa Cikendung merupakan desa pertama dari 36 desa yang ikut Program PAMSIMAS yang berani mendeklarasikan ODF, yang direncanakan pada bulan Januari 2011.

Selain Desa Cikendung yang ODF,juga ada Desa lain yang sebenarnya sudah mencapai ODF tingkat Desa, yaitu Desa Pulosari, Desa jurangmangu, Desa Nyalembeng, Desa Karangsari,dan Desa Penakir. Untuk Desa yang lain hanya bisa tingkat Dusun yang bisa dikatakan sudah ODF yaitu untuk Desa Tlagasana hanya Dusun Krajan, Desa Karangsari Dusun yang ODF Karangsari Barat dan Dusun Nusa, Desa Gapura yang ODF Dusun Leretan, Majalangu Yang ODF Dusun Majalangu Lor, Desa Cawet Dusun Watugajah, Dan Desa Jojogan Dusun yang ODF Dusun Sindu.

Pencapaian ODF di desa dan di dusun merupakan hasil kerja keras dari semua pihak baik dari sanitarian Puskesmas (Bapak Ismunandar, Bapak Misyuko, Bapak Abdulah, Bapak Harsono, Bu Yuni Parwati, dan Bu Sri Murbaetin, Bu Titi Ekowati) terutama fasilitator kesehatan seperti Mba Nia Kurniasih, Mas Abdul Wachid, dan Mba Eva Hermawati, Hafida Fitrisari (TFM Replikasi), Bidan Desa, dan teman-tTebaleman kader kesehatan yang sudah dilatih.
Keberhasilan ODF tidak lepas dari peran serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang, yang dengan gencarnya melakukan monitoring dan pendampingan untuk pelaksanaan CLTS di Desa-desa PAMSIMAS. “Keinginan saya adalah meng ODF kan Desa-desa yang PAMSIMAS dan NON PAMSIMAS” tutur Kepala Seksi Penyehatan Sanitasi Dasar dan Permukiman (PSDP) Ibu Wiji Mulyati, Bidang PKPL, yang juga keinginan tersebut di Dukung Bapak Ir. Joni selaku Kabid PKPL Dinkes Kab. Pemalang.
Berikut adalah perjalanan Desa-Desa PAMSIMAS di Kab. Pemalang menuju Desa ODF yang pada awalnya dimana masyarakat masih menggunakan sungai, kebun dan kolam untuk tempat Buang Air Besar (BAB), dimasing-masing Desa di Kab. Pemalang.
Kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan sungai untuk buang air besar, dan Jumbleng
yang masih dalam keadaan terbuka.
Pelatihan Bidan desa, Sanitarian Puskesmas, dan Forum Kesehatan Desa (FKD) desa yangmendapat program PAMSIMAS yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang.
Setelah mendapat pelatihan CLTS di Kabupaten pemalang, sanitarian dan FKD mengimplementasikan di tingkat desa untuk melatih kader kesehatan, yang juga di ikuti komponen masyarakat lainnya seperti Tokoh Agama dan Tokoh Asyarakat setempat. Selain Pelatihan koordinasi Tingkat desa dengan Sanitarian Pulosari (Sri Murbaetin, Kepala Desa Karangsari Susi Herningtias serta Koordinator LKM Bapak Subadi untuk melakuka perencanaan
dan pelatihan Kader dalam pelaksanaan CLTS di Dusun yang di anggap masyarakatnya masih
banyak yang BAB sembarangan.
Pelaksanaan CLTS serta Pemetaan Wilayah yang masih digunakan warga untuk BAB, Transect
Walk (jalan-jalan) menuju lokasi yang biasa digunakan warga untuk BAB, Simulasi air yangterkontaminasi kotoran manusia, alur perjalanan penyakit diare yang dilaksanakan oleh
Sanitarian Puskesmas bersama bidan Desa, Kader Kesehatan yang sudah mendapatkan
Pelatihan dan didampingi fasilitator kesehatan. Kegiatan Pemicuan dilakukan di masing-masing
Dusun yang wilayahnya masih digunakan warga untuk BAB sembarang tempat, atau di wilayah
yang masih menggunakan jumbleng yang masih terbuka sehingga di harapkan ada perubahan
atau peningkatan tangga sanitasi yang tadinya terbuka menjadi tertutup.
Penyampaian komitmen dari Kepala Desa dan warga masyarakat yang sudah dilakukan pemicuan CLTS untuk merubah kebiasaan warganya tidak BAB sembarang tempat dengan cara
membangun jamban baik itu leher angsa, maupun Jumbleng dalam kurun waktu 6 bulan sampai
satu tahun., numpang saudara atau tetangga terdekat.
Monitoring yang dilakukan oleh Kader kesehatan dan Natural Leader secara berkala, untuk mengecek warga yang sudah membuat komitmen untuk membangun jamban setelah dilaksanakan CLTS.
Evaluasi pelaksanaan CLTS oleh Kader kesehatan yang dilakukan oleh Koordinator LKM, Kepala Desa dan Bidan Desa, dan dihadiri dari Puskesmas (Kepala Puskesmas, dan Sanitarian), dan dari lintas sector lainnya seperti PKK Kecamatan, PMD Kecamatan.

Selain dengan pemicuan, monitoring dan Evaluasi, pemicuan juga dilakukan dengan memasang
spanduk yang bersifat mengajak dan memicu kepada masyarakat untuk hidup bersih dan sehat yang ditempatkan di tempat-tempat yang strategi, yang mudah dibaca oleh masyarakat yang melewatinya.
Jamban terbangun hasil pemicuan yang dbangun oleh warga. Monitoring dan pemicuan masih tetap dilaksanakan oleh kader kesehatan yang sudah dilatih, LKM PAMSIMAS, serta komponen desa juga ikut berperan aktif untuk meningkatkan cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban,
sehingga bisa memicu masyarakat untuk menghilangkan kebiasaan BAB sembarangan.
dengan cara membangun maupun dengan cara menumpang tetangga atau saudara terdekat.
disarikan dari daisahbeny

Sabtu, Mei 15, 2010

TAWIN "SULE" TERPICU UNTUK STOP BABS




"Kata orang kebersihan itu sebagian dari iman, tetapi mengapa di desa saya banyak orang yang masih buang air besar di sungai dan waktu sebelum nikah saya dan istri saya berjanji bahwa dirimu hanya untukku.Tetapi kenyataannya masih ada lelaki maupun perempuan yang buang air besar di sungai dengan bagian tubuhnya yang bisa terlihat oleh orang lain.Ini yang menjadikana saya tergerak untuk berubah perilaku dalam hal buang air besar".

Demikian sekelumit penuturan Tawin , salah seorang peserta pemicuan di Desa Gongseng yang kemudian membuat jamban dalam jangka waktu 3 hari setelah pemicuan. Tawin yang dijuluki ‘Sule” itu menceritakan pengalamannya apa adanya dan diselingi gaya bahasanya yang kental orang pemalang serta membuat suasana lucu ketika dilakukan pemicuan di desanya.

Kebiasaan buang air besar di sungai merupakan pemandangan yang biasa di Desa Gongseng Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang. Sungai pula yang menjadi kebutuhan untuk mandi, cuci dan keperluan untuk air rumah tangga . Sedangkan sumber air tanah jauh dan terbatas sehingga masyarakat desa tersebut harus menempuh hampir 1 Km untuk mendapatkan air bersih.

Namun pada 2009, desa tersebut menjadi lokasi Program PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Kegiatanpun berlangsung dari identifikasi masalah yang berhubungan dengan air minum dan perubahan perilaku untuk tidak buang air besar di sembarang tempat. Pelaku di desa adalah masyarakat yang didampingi oleh 3 orang fasilitator masyarakat, bidan desa dan sanitarian Puskesmas.

Salah satu kegiatan di desa adalah pemicuan untuk perubahan perilaku untuk tidak buang air besar di sembarang tempat melalui community led total sanitation (CLTS). Salah satu peserta pemicuan tersebut adalah Tawin, lelaki dua anak ini berkomitmen untuk berubah perilaku dalam jangka waktu 7 hari. Suatu jangka waktu yang paling cepat diantara peserta pemicuan. Dan kenyataannya ternyata Pak Tawin ini bukan 7 hari namun lebih cepat yaitu 3 hari setelah pemicuan, segera dia membuat jamban yang sederhana dengan bahan yang terdapat di sekitar rumah dan yang dipunyai yaitu membuat lubang berbentuk segiempat untuk tempat tinja , kemudian di atasnya dilapisi papan kayu dan diberi lubang untuk jalan masuk tinja. Tidak lupa pula diberi tutup lubang tersebut agar lalat tidak masuk ke tinja. Agar tidak terlihat orang kemudian dibuat rumah atau dinding penutup yang terbuat dari anyaman bambu. Sederhana dan murah namun dapat menghindari lalat membawa tinja yang dapat mengakibatkan pencemaran makanan maupun sakit Diare.

Kebanggaan Tawin itupun berlanjut setelah membuat jamban sederhana, ternyata sebelum dia dan keluarganya memanfaatkan jambannya ,ada tamu tetangganya yang datang dari Jakarta kebingungan mencari jamban ketika akan buang air besar dan jamban Tawin menjadi pilihan tamu tersebut Tawin dengan senang dan bangga mempersilahkan jambannya untuk dipakai. Kata Tawin kita harus memiliki sarana ini biar tidak susah ketika ada tamu yang biasa buang air besar di jamban dan kita tidak malu karena sudah memilikinya.
Anak – anak Tawin yang masih bersekolah di sekolah dasar terkadang saling mengejek karena temannya masih buang air besar di sungai sedangkan dirinya dan keluarganya telah memiliki jamban. Ini pula yang memicu keluarga lain untuk tidak menjadikankan sungai sebagai sarana buang air besar. (disadur dari penuturan Tawin)