Tampilkan postingan dengan label sumadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 06, 2010

PAHLAWAN SEPTIC TANK PERAIH KALPATARU



Hanya sedikit orang yang rela bergelut dengan kotoran manusia. Namun Sumadi (39), warga Desa Warujayeng, Kabupaten Nganjuk yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Puskesmas Jatikalen, Nganjuk, memiliki pikiran yang berbeda.
Berawal dari keprihatinannya dengan kondisi lingkungan yang kurang sehat karena kebiasaan masyarakat yang membuang air besar di sungai dan kakus-kakus tradisional, Sumadi pun mengeluarkan ide untuk menyehatkan lingkungannya dengan membuat septic tank.Apa yang dilakukannya bukanlah sebuah hal yang mudah. Meskipun Bapak dua anak ini sudah mulai merintis pengolahan tinja untuk biogas sejak tahun 2001, tapi meyakinkan warga sekitar akan pentingnya septic tank sangat sulit untuk dilakukan. Ditambah lagi dengan latar belakang penduduknya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani kecil dan buruh tani.
Pembuatan septic tank yang mencapai Rp 1,8 juta per unitnya dianggap sangat memberatkan bagi warga. Dengan berbagai macam cara, Sumadi pun menurunkan harga pembangunan sehingga hanya dibutuhkan biaya Rp 850 ribu. Namun hal ini belum mendapatkan tanggapan yang positif dari warga.Melihat kondisi warga yang kurang memungkinkan, Sumadi pun akhirnya memutuskan untuk membangun septic tank gratis bagi mereka, namun endapan tinja dan biogas dari septic tank itu akan diambilnya. Ide inipun disambut baik oleh warga karena dianggap saling menguntungkan.Septic tank ala Sumadi terdiri atas tiga jamban yang merupakan lubang penampungan, peresapan dan biogas yang bisa digunakan dalam kurun waktu 8-10 tahun.
Hasilnya cukup menggembirakan. Saat ini septic tank karya Sumadi sudah menyebar ke berbagai kecamatan di Nganjuk. Sumadi bangga karena berhasil memotivasi warga untuk membudayakan hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan.Dalam salah satu kisah perjuangannya, Sumadi bertutur bagaimana salah seorang warga yang tidak mau dibuatkan septic tank karena rumahnya dekat dengan sungai. Namun karena kebanyakan warga sudah menggunakan septic tank, warga tersebut akhirnya mau untuk dibuatkan septic tank secara gratis.Dari 19 kecamatan di Nganjuk, kini sudah ada 2.800 unit septic tank buatan Sumadi yang dipakai warga. Hasil dari kerja kerasnya ini baru dapat dinikmati Sumadi di tahun 2012 mendatang berupa biogas dan endapat tinja untuk pupuk. Sumadi memang tidak bekerja sendirian untuk menyehatkan lingkungan desanya ini. Ia merangkul pihak lain untuk membiayai pembangunan ribuan septic tank dan usaha pengolahan biogas serta endapan tinja. Bahkan sebagian pupuk olahan dari endapan tinja ini sudah di uji coba pada tanaman bawang merah (brambang). Hasilnya diperoleh brambang yang jauh lebih berkualitas. Dengan pupuk buatannya, 1 kwintal brambang hanya susut 3-4 kg padahal kalau tanpa pupuk brambang bisa susut sampai 40 kg.Septic tank karya Sumadi tidak hanya digunakan warga Kabupaten Nganjuk tapi sudah meluas ke daerah lain di jawa Timur seperti Kediri dan Madiun. Bahkan beberapa daerah di Jawa Tengah sudah mengadopsi karya Sumadi.Atas hasil karya Sumadi yang brilian itulah ia akhirnya mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ir Totok Prastowo dari bagian Lingkungan Hidup pemkab Nganjuk dan juga merupakan salah satu motivator Sumadi mengatakan syarat penghargaan Kalpataru adalah sebuah karya tidak hanya dinikmati warga sekitar tetapi juga warga daerah lain.Semenjak memulai usahanya di tahun 2001, baru pada tahun 2007-lah Sumadi mendapatkan penghargaan untuk pertama kalinya dengan menjadi juara III bidang pelestari lingkungan hidup se-Jatim. Dan pada tahun 2008 karyanya mulai dikembangkan ke Kediri dan kota lainnya. Di tahun 2010 barulah Sumadi memperoleh penghargaan dari Presiden.“Tidak terbayang sebelumnya. Saya yang hanya orang biasa ternyata bisa menjadi tamu khusus presiden di Istana Negara. Saya merasa haru sekali,” ujarnya.Melalui proyek septic tank-nya ini Sumadi berharap warga tidak lagi takut akan penyakit karena kebersihan lingkungannya saat ini sudah terjaga. Warga tidak perlu lagi membuang air besar sembarangan dan bisa merasa malu bila rumahnya tidak ada jamban terutama bila kedatangan tamu.Kesempatan besar sedang menanti Sumadi saat ini. Atas prestasinya tersebut, Sumadi mendapat job sebagai narasumber di berbagai daerah, salah satunya dari Bank Dunia. Ia dianggap berkredibilitas untuk mengembangkan materi pengolahan tinja dan pembuatan biogasnya dan menunjukkannya kepada negara-negara lain yang membutuhkan. Sumadi mengatakan pekerjaan barunya itu akan mulai dijalaninya di bulan Juli 2010 mendatang.Salah satu bukti yang patut kita contoh. Ketekunan Sumadi dalam mengerjakan sesuatu pada akhirnya berbuah manis setelah melahui tahun-tahun yang melelahkan dan penuh dengan tantangan namun ia tak pernah mengenal kata menyerah.

Rabu, Desember 30, 2009

Sanitarian Pengusaha Jamban



Menjadi sanitarian bukan cita-cita Sumadi. Namun, Sumadi menunjukkan, pengabdian dan totalitas dalam menggauli profesi yang ibarat jatuh dari langit itu mengantarnya menuju sukses.
Melalui inovasi desain septic tank ciptaannya, Sumadi berhasil menunjukkan, jamban tak sekadar ”urusan belakang” yang remeh. Namun, lebih dari itu, jamban adalah kunci bagi peningkatan kualitas hidup yang lebih baik, terutama bagi masyarakat kelas bawah.
Berurusan dengan tinja sudah pasti menjijikkan. Tetapi, tidak bagi Sumadi yang berprofesi sebagai sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Persoalan seputar tinja bagi sanitarian—yang bertugas melakukan pencegahan penyakit masyarakat—adalah persoalan penting yang bila tidak ditangani dengan benar bisa menjadi malapetaka.
Sanitasi buruk berpengaruh terhadap kualitas kesehatan masyarakat yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat. ”Kalau mereka sakit-sakitan, uangnya habis dipakai berobat, ya miskin terus,” kata Sumadi.
Prihatin dengan rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan jamban, Sumadi melakukan survei di Desa Begendeng, Kecamatan Jatikalen, Nganjuk. Begendeng dipilih sebagai sasaran survei karena pola sanitasi masyarakatnya yang buruk. Desa ini terletak di muara Sungai Brantas dan Sungai Widas. ”Di dua sungai itulah masyarakat melakukan MCK (mandi, cuci, kakus) sehari-hari,” kata Sumadi.
Hasil survei tak jauh dari dugaan. Dari 267 rumah di Begendeng, tercatat hanya empat rumah yang memiliki jamban dengan desain septic tank berbentuk kotak. Saat itu biaya membuat jamban sekitar Rp 1,6 juta per unit. Sangat mahal bagi warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan buruh.
Sumadi kemudian berinisiatif membuat desain septic tank dengan model silindris. Model silindris lebih cocok digunakan di daerah seperti Jatikalen yang memiliki kontur tanah yang selalu bergerak.
”Model silindris jauh lebih kuat karena titik tekannya hanya satu, yaitu di tengah, sedangkan model kotak lebih gampang roboh,” jelas Sumadi. Dengan model septic tank silindris, Sumadi mampu menekan harga pembuatan jamban hingga Rp 440.000.
Meski harganya jauh lebih murah, saat diperkenalkan banyak warga yang masih ragu. Saat itu baru 10 keluarga yang tertarik memesan jamban kepada Sumadi. ”Waktu itu saya beri jaminan, kalau dalam waktu lima tahun jambannya amblek, uang mereka kembali,” kata Sumadi.
Jaminan dan harga murah yang ditawarkan Sumadi menarik minat daftar warga. Tahun 2003 pesanan jamban Sumadi terus bertambah sampai ke semua kecamatan. Kenaikan harga material hingga dua kali lipat tak membuat pesanan berkurang.
Sukses Sumadi mengampanyekan penggunaan jamban terus berlanjut. Tahun 2003 desain septic tank ciptaan Sumadi diterapkan pada proyek Stimulan Jamban Dinas Kesehatan Nganjuk di lima kecamatan, yaitu Jatikalen, Patianrowo, Lengkong, Baron, dan Sukomoro, sebanyak 100 unit.
Prinsip pengabdian
Lulus kuliah tahun 2004, Sumadi bertekad melebarkan sayap. Dia tak ingin hanya menjadi sanitarian. Sumadi membuka perusahaan pembuatan jamban bersama dua rekannya dengan nama Karya Sanitasi.
Meski menjadi pengusaha, Sumadi memegang teguh prinsip pengabdian profesi sebagai sanitarian. Misi untuk terus mengampanyekan penggunaan jamban bagi masyarakat miskin pun tetap dipelihara.
Siasat Sumadi adalah dengan memberikan diskon. Harga jamban yang semula Rp 1,3 juta didiskon hingga Rp 850.000 per unit.
”Saya memangkas keuntungan. Saya kan sudah dapat gaji. Ini bagian dari tanggung jawab saya sebagai sanitarian. Tujuan utama saya, masyarakat jadi sehat,” ujar Sumadi.
Bahkan, untuk menjangkau masyarakat sangat miskin, Sumadi meluncurkan jamban ekonomis seharga Rp 625.000 dan jamban tumbuh sehat seharga Rp 180.000-Rp 260.000. Warga juga bisa mencicil sesuai dengan kemampuan.
Strategi yang dilakukan Sumadi adalah dengan memperkecil kapasitas septic tank dari yang semula 1,3 meter kubik menjadi hanya 0,7 meter kubik. ”Yang penting masyarakat pakai jamban,” tandas Sumadi.
Hingga menjelang akhir tahun 2009, tercatat 2.600 keluarga di Kabupaten Nganjuk menggunakan jamban buatan Sumadi. Sejumlah wilayah sudah mengantre pesanan, seperti Madiun, Jombang, Kediri, Ponorogo, dan Gresik, termasuk Dinan Kesehatan Provinsi Jatim yang tertarik mengadopsi desain septic tank buatan Sumadi.
Pedagang beras
Sejak kecil Sumadi (39) dididik dan diarahkan oleh orangtuanya, pasangan Djamin dan Sakinem, untuk mengikuti jejak mereka menjadi pedagang beras. Sumadi tak pernah diizinkan meneruskan sekolahnya karena tak ada biaya. ”Pokoknya, lulus SMA saya harus jadi pedagang beras,” kenang Sumadi.
Sumadi tak bisa berbuat apa-apa. Lahir dan besar dalam keluarga miskin membuat dia harus berkompromi dengan keterbatasan. Sumadi pun terpaksa mencekokkan harga berbagai jenis beras, gabah, rendemen, hingga rumus menghitung untung rugi ke otaknya.
Namun, Sumadi adalah manusia keras hati. Semangatnya untuk mengubah nasib tak pernah pupus. Nasib rupanya memang tak bisa ditebak. Roda nasib Sumadi yang telah dirancang menjadi pedagang beras justru menggelinding ke tempat yang tak pernah terbayangkan.
Beberapa saat setelah lulus SMA tahun 1989, Sumadi tanpa sengaja melihat pengumuman penerimaan Sekolah Pembantu Penilik Hygiene (SPPH). SPPH adalah sekolah ikatan dinas selama satu tahun untuk mencetak tenaga sanitarian.
Atas restu Djamin dan Sakinem, Sumadi mendaftar ke SPPH. ”Bapak akhirnya mengizinkan karena selama satu tahun biayanya hanya Rp 500.000,” katanya.
Setahun kemudian Sumadi lulus dari SPPH. Sumadi lalu ditempatkan di Samarinda, Kalimantan Timur, selama tiga tahun. Samarinda menjadi laboratorium pertama Sumadi menggeluti profesi sebagai sanitarian.
Tahun 1994 Sumadi kembali ke Nganjuk. Sumadi bertekad mengabdikan seluruh ilmunya di tanah kelahirannya.
Pilihan Sumadi tak salah. Dengan menjadi seorang sanitarian, dia menemukan jalan hidupnya. Semangatnya untuk mengampanyekan penggunaan jamban masih terus menyala hingga mimpinya tak ada lagi keluarga yang tak memiliki jamban terwujud.
• Lahir: Nganjuk, 9 November 1970 • Pekerjaan: Sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur • Istri: Winarsih (39) • Anak: Rahma Nur Hayati (12) Alfina Nur Hanifah (6)• Pendidikan: - SD Sumber Kepuh 1 Nganjuk (1983) - SMPN Waru Jayeng, Nganjuk (1986) - SMAN 2 Nganjuk (1989) - SPPH Surabaya (1990) - Universitas Adi Buana Surabaya (2004) •

Prestasi antara lain: 1. Sanitarian terbaik tingkat provinsi dari Bank Dunia (2008) 2. Menjadi pembicara di Water Week, Swedia (15 September 2009) 3. Pelestari Lingkungan Tingkat Provinsi Jawa Timur selama 3 kali berturut-turut (2007-2009)
sumber : Kompas