Sabtu, Februari 26, 2011

GIRIWONDO DESA ODF

Desa Giriwondo, Kecamatan Jumapolo, Karanganyar dideklarasikan sebagai salah satu desa Open Defication Free (ODF) atau desa yang warganya sudah tidak buang air besar (BAB) sembarangan.
“Saat ini sudah dibangun sejumlah fasilitas kebersihan seperti toilet, bak air, sanitasi sekolah dan sejumlah jaringan pipa melalui program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat-red),” ujar koordinator Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Argo Warih Giriwondo, Sukatno, saat deklarasi desa ODF di Balaidesa Giriwondo, Senin (31/1).
Pembangunan sejumlah fasilitas itu menggunakan dana dari APBN senilai Rp 192.500.000 dan APBD senilai Rp 27.500.000. Ada pula dana secara mandiri dari masyarakat setempat senilai Rp 46.137.000. Total semuanya menelan dana senilai Rp 279.800.000.
Menurut Sukatno, saat ini ada 98 konsumen atau pelanggan yang memakai fasilitas itu. Meskipun antara fasilitas sumur dan jumlah pelanggan sudah memadai, namun tidak semua warga bisa mendapatkan air bersih. Kendalanya yakni kekurangan pipa air untuk mengalirkan ke sejumlah rumah warga.
Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR yang juga meresmikan Desa Giriwondo sebagai desa ODF mengatakan, ke depan, semua warga harus mendapatkan air bersih. Untuk lebih mengembangkan lagi Pamsimas di Desa Giriwondo, Pemkab menjanjikan bantuan dana senilai Rp 15 juta.

Jumat, Januari 28, 2011

CAMAT TELADAN KARENA ODF


NURUL AZIZAH Camat Kalitidu, akhirnya membuktikan diri sebagai camat terbaik. Prestasi camat teladan itu diraih setelah mengalahkan 38 peserta se-Jatim. Rencananya penghargaan itu akan diserahkan Gubernur Jatim di gedung Grahadi, Rabu (05/01).Saat mendengar kabar dirinya menjadi juara pertama tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Surat dari Sekdaprov terkait terpilihnya menjadi camat teladan baru diterima kemarin. Ketika membuka isi surat ia sangat bahagia.“Saya tidak menyangka bisa menjadi juara pertama,” terang NURUL.Apa sebenarnya yang membuat NURUL bisa menjadi juara? Dikatakan selama mengikuti seleksi ia hanya menyampaikan 7 program yang telah digagas SUYOTO Bupati Bojonegoro. Salah satunya adalah program ODF(Open Defecation Free) atau jambanisasi. Di kecamatan Kalitidu sedikitnya 10 desa sudah memiliki jamban. Peningkatan program bisa berhasil mencapai 65% dalam kurun waktu 3 bulan.Dan program ini murni swadaya masyarakat.Sementara itu pemenang camat teladan selain Bojonegoro adalah Camat Madiun sebagai juara 2, Camat Paciran juara 3 sementara juara 4 adalah camat Malang. Menurut NURUL keberhasilan yang diraih Kecamatan Kalitidu merupakan keberhasilan masyarakat Bojonegoro.sumber:suara Surabaya

Sabtu, Januari 22, 2011

10 Makanan sehat Bisa Bikin Gemuk

VIVAnews - Banyak orang menganggap, konsumsi junk food sebagai penyebab terbesar kegemukan. Namun tahukah Anda, makanan sehat yang sering disantap pun dapat membuat pinggang melar.
Bagi yang sedang menjalani diet, mulai sekarang perhatikan makanan Anda agar diet yang dijalani tidak sia-sia. Berikut daftar makanan menyehatkan yang dapat membuat bobot tubuh melambung.
1. Sushi
Hati-hati buat penggila sushi. Sayuran dan rumput laut memang tercatat sebagai makanan rendah kalori, namun campuran krim keju atau mayonnaise, seafood membuat satu roll sushi memiliki kadar sekitar 500-600 kalori.
Kecap yang sering kita makan bersama dengan sushi pun dapat membuat bobot bertambah, karena kandungan sodiumnya membuat Anda ingin terus minum dan makan.
2. Buah yang dikeringkan
Buah yang dikeringkan ternyata memiliki kalori lebih banyak dibandingkan buah segar. Hal ini dikarenakan buar-buahan yang dikeringkan telah mengalami proses pengeringan yang menjadikannya lebih padat.
Contohnya, anggur segar memiliki 60 kalori per gelas, sedangkan kismis memiliki 460 kalori. Perlu Anda tahu, tak sedikit juga buah kering yang menggunakan gula tambahan sehingga jumlah kalorinya bisa lebih tinggi.
3. Granola
Menu sarapan sehat yang terdiri dari kacang dan gandum ini ternyata memiliki kalori sebesar 500 per mangkoknya. Heran? Ternyata penggunaan minyak yang membuatnya renyah membuat makanan ini memiliki jumlah kalori tinggi. Lebih baik memilih sereal lain dengan nutrisi yang sama namun sedikit minyak dan sugar.
4. Kopi susu
Biasanya Anda akan mencampurkan susu pada kopi hitam. Namun, ternyata hal ini adalah cara yang salah untuk mendapatkan kalsium. Jika meminum 2-3 cangkir kopi susu per hari maka Anda akan
mendapatkan 200 kalori atau lebih sama seperti mendapatkan kalori dari potongan besar butter yang berlemak tinggi.
5. Teh dalam kemasan
Banyak teh kemasan memakai gula atau madu sebagai pemanis. Satu botol teh ternyata memiliki hampir 200 kalori sama dengan satu botol soda.
6. Rengginang
Jika memakan rengginang, pasti Anda tidak akan bisa berhenti sampai habis. Makanan ini sebenarnya rendah lemak dan kalori, namun kandungan serat dan proteinnya sangat rendah. Bahkan keinginan untuk memakannya terus menerus yang menyebabkan substansi-subtansinya meningkat dalam tubuh Anda.
7. Burger sayuran
Tentu tidak memakai daging sapi pada burger memang dapat mengurangi kalori. Namun, tanpa daging pun Anda bisa mendapatkan 1000 kalori dari satu burger karena keju, bentuk roti yang besar, saus, dan mayonaise yang
membuatnya memiliki kadar kalori tinggi.
8. Jus buah
Siapa menyangka jus buah dapat membuat tubuh gemuk? Ternyata segelas jus kemasan bercitarasa jeruk atau apel memiliki 55 gram karbohidrat sama dengan satu potong roti. Dan kebanyakan jus yang beredar di pasaran mengandung sampai 12 sendok gula penuh.
9. Salad
Tidak ada yang lebih baik daripada sayuran yang tidak dicampur bumbu apapun. Penambahan keju, kacang, saus salad membuatnya kaya akan kalori bahkan lebih tinggi dari pasta.
10. Tahu
Anda akan mendapatkan sodium, kalori, lemak jenuh, dan bahkan gula dalam hidangan tahu. Namun, tahu bukan makanan yang akan membuat gemuk, namun cara mengolahnya yang bisa membuat kandungan kalori dalam makanan berbahan tahu menjadi tinggi.

Legionella mewabah di Bali?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus menyelidiki dugaan wabah legionella di Bali setelah dilaporkan ada beberapa turis Australia terkena serangan bakteri tersebut. Bakteri ini menyerang saluran pernafasan.
"Tadi pagi tim baru datang dari Bali dan akan memeriksa sampel di laboratorium kami di Yogyakarta. Mungkin hasilnya seminggu lagi baru ketahuan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE di Jakarta, Rabu.
Selama melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan adanya wabah tersebut, Dinas Kesehatan terkait disebut Tjandra telah melakukan desinfektan terhadap lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat penularan. "Ada dua daerah yang dilakukan desinfektan," katanya.
Tjandra mengungkapkan pihak Kementerian Kesehatan dari Australia telah menghubungi pihaknya mengenai kemungkinan adanya wabah lewat jaringan International Health Regulations (IHR) yang diikuti kedua negara. Adanya jaringan tersebut memang mewajibkan suatu negara untuk melaporkan adanya dugaan kasus wabah agar dapat ditangani dan untuk antisipasi penularan selanjutnya.
Sementara itu, sebanyak 10 orang turis asal Australia telah dipulangkan karena terjangkit penyakit legionella yang merupakan suatu penyakit infeksi disebabkan oleh bakteri Legionella dan menyerang saluran napas di paru-paru.

Sabtu, Januari 15, 2011

Tempat nongkrong favorit kuman di rumah

Kuman seperti virus, bakteri atau jamur bisa hidup di beberapa tempat yang tak terduga oleh manusia, meskipun tempat tersebut terlihat sudah bersih. Mana saja tempat nongkrong kuman paling banyak di rumah?Orang sering menduga kamar mandi tempat paling kotor, ternyata itu salah. Masih ada yang lebih kotor dibanding kamar mandi."Seseorang akan berpikir bisa menjadi sakit jika mengambil suatu barang yang sudah jatuh di kamar mandi. Padahal kamar mandi mungkin menjadi tempat yang lebih bersih dibandingkan dengan wastafel dapur," ujar Eileen bruzzo, direktur pengendalian infeksi di Long Island College Hospital of Brooklyn, New York , seperti dikutip dari WebMD, Rabu (7/4/2010).
Tempat nongkrong kuman paling banyak di rumah adalah:1. Wastafel dapur Partikel makanan yang tertinggal di piring akan dibilas atau direndam hingga terbuang dalam wastafel. Tapi selama perjalanan tersebut kemungkinan bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit seperti E.coli dan salmonella. Bakteri ini dapat menempel di tangan atau menyebar di makanan."Meskipun kebanyakan orang mengambil langkah untuk membasmi kuman yang ada dalam toilet, tapi beberapa wastafel dapur juga harus dipertimbangkan dengan cara pembersihan yang sama. Karena beberapa orang menganggap bahwa tempat tersebut sudah bersih, padahal tidak," ungkap Abruzzo.Abruzzo menyarankan agar selalu membersihkan wastafel dapur untuk mencegah penyebaran kuman. Salah satu caranya bisa dengan mencuci wastafel dapur dengan larutan pemutih dan dibilas menggunakan air setiap harinya, kemudian mengeringkan sisa-sisa yang ada. Selain itu jangan lupa untuk membersihkan sumbatan di wastafel dapur.
2. Sikat gigi.Karena tak banyak orang yang memperhatikan kebersihan dari sikat giginya, banyak orang yang menyimpan sikat gigi dalam keadaan lembab, padahal kondisi ini sangat memungkinkan kuman untuk tumbuh dan berkembang.
3. Remote televisi Karena remote adalah salah satu barang yang paling sering disentuh oleh banyak orang sehingga memudahkan penyebaran kuman. Selain remote televisi, keyboard komputer juga diketahui bisa menjadi penyebar kuman.
4. Kamar mandi yang menjadi tempat penyebaran kuman, karena tempat ini terbilang cukup lembab sehingga menjadi tempat yang baik dan kondusif untuk perkembangbiakan bakteri dan kuman. Karenanya usahakan untuk memberikan sirkulasi yang tepat di kamar mandi sehingga udara di dalamnya tidak terlalu lembab.(ver/ir)Vera Farah Bararah - detikHealth

Rabu, Januari 05, 2011

LANGKAH PERUBAHAN (ODF- Open Defecation Free) Di Pemalang

Kabupaten Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang ikut Program PAMSIMAS. Kabupaten Pemalang terdiri dari 222 Desa/Kota. Alasan ikut PAMSIMAS karena Kabupaten pemalang adalah Kabupaten yang masyarakatnya masih banyak yang kekurangan Air khususnya pada daerah atas, Tingkat kemiskinan masih tinggi, Penyakit Diare juga masih tinggi dan Masih banyaknya warga yang masih BAB Sembarang tempat, salah satunya adalah Desa Cikendung yang ikut Program PAMSIMAS.
Desa Cikendung merupaka salah satu Desa yang ada di Kecamatan Pulosari Kabupaten pemalang yang ikut Program PAMSIMAS Tahun 2008. Sebelum mengikuti program PAMSIMAS masyarakat Desa Cikendung masih banyak yang BAB sembarangan diantaranya di kebun, tutur Kepala Desa Cikendung Bapak Slamet. Karena kerja keras dari Kepala Desa Cikendung, Kader Kesehatan, Bidan Desa dan LKM PAMSIMAS yang dibantu Sanitarian Puskesmas Pulosari Ibu Sri Murbaetin melalui program PAMSIMAS.Desa Cikendung merupakan desa pertama dari 36 desa yang ikut Program PAMSIMAS yang berani mendeklarasikan ODF, yang direncanakan pada bulan Januari 2011.

Selain Desa Cikendung yang ODF,juga ada Desa lain yang sebenarnya sudah mencapai ODF tingkat Desa, yaitu Desa Pulosari, Desa jurangmangu, Desa Nyalembeng, Desa Karangsari,dan Desa Penakir. Untuk Desa yang lain hanya bisa tingkat Dusun yang bisa dikatakan sudah ODF yaitu untuk Desa Tlagasana hanya Dusun Krajan, Desa Karangsari Dusun yang ODF Karangsari Barat dan Dusun Nusa, Desa Gapura yang ODF Dusun Leretan, Majalangu Yang ODF Dusun Majalangu Lor, Desa Cawet Dusun Watugajah, Dan Desa Jojogan Dusun yang ODF Dusun Sindu.

Pencapaian ODF di desa dan di dusun merupakan hasil kerja keras dari semua pihak baik dari sanitarian Puskesmas (Bapak Ismunandar, Bapak Misyuko, Bapak Abdulah, Bapak Harsono, Bu Yuni Parwati, dan Bu Sri Murbaetin, Bu Titi Ekowati) terutama fasilitator kesehatan seperti Mba Nia Kurniasih, Mas Abdul Wachid, dan Mba Eva Hermawati, Hafida Fitrisari (TFM Replikasi), Bidan Desa, dan teman-tTebaleman kader kesehatan yang sudah dilatih.
Keberhasilan ODF tidak lepas dari peran serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang, yang dengan gencarnya melakukan monitoring dan pendampingan untuk pelaksanaan CLTS di Desa-desa PAMSIMAS. “Keinginan saya adalah meng ODF kan Desa-desa yang PAMSIMAS dan NON PAMSIMAS” tutur Kepala Seksi Penyehatan Sanitasi Dasar dan Permukiman (PSDP) Ibu Wiji Mulyati, Bidang PKPL, yang juga keinginan tersebut di Dukung Bapak Ir. Joni selaku Kabid PKPL Dinkes Kab. Pemalang.
Berikut adalah perjalanan Desa-Desa PAMSIMAS di Kab. Pemalang menuju Desa ODF yang pada awalnya dimana masyarakat masih menggunakan sungai, kebun dan kolam untuk tempat Buang Air Besar (BAB), dimasing-masing Desa di Kab. Pemalang.
Kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan sungai untuk buang air besar, dan Jumbleng
yang masih dalam keadaan terbuka.
Pelatihan Bidan desa, Sanitarian Puskesmas, dan Forum Kesehatan Desa (FKD) desa yangmendapat program PAMSIMAS yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang.
Setelah mendapat pelatihan CLTS di Kabupaten pemalang, sanitarian dan FKD mengimplementasikan di tingkat desa untuk melatih kader kesehatan, yang juga di ikuti komponen masyarakat lainnya seperti Tokoh Agama dan Tokoh Asyarakat setempat. Selain Pelatihan koordinasi Tingkat desa dengan Sanitarian Pulosari (Sri Murbaetin, Kepala Desa Karangsari Susi Herningtias serta Koordinator LKM Bapak Subadi untuk melakuka perencanaan
dan pelatihan Kader dalam pelaksanaan CLTS di Dusun yang di anggap masyarakatnya masih
banyak yang BAB sembarangan.
Pelaksanaan CLTS serta Pemetaan Wilayah yang masih digunakan warga untuk BAB, Transect
Walk (jalan-jalan) menuju lokasi yang biasa digunakan warga untuk BAB, Simulasi air yangterkontaminasi kotoran manusia, alur perjalanan penyakit diare yang dilaksanakan oleh
Sanitarian Puskesmas bersama bidan Desa, Kader Kesehatan yang sudah mendapatkan
Pelatihan dan didampingi fasilitator kesehatan. Kegiatan Pemicuan dilakukan di masing-masing
Dusun yang wilayahnya masih digunakan warga untuk BAB sembarang tempat, atau di wilayah
yang masih menggunakan jumbleng yang masih terbuka sehingga di harapkan ada perubahan
atau peningkatan tangga sanitasi yang tadinya terbuka menjadi tertutup.
Penyampaian komitmen dari Kepala Desa dan warga masyarakat yang sudah dilakukan pemicuan CLTS untuk merubah kebiasaan warganya tidak BAB sembarang tempat dengan cara
membangun jamban baik itu leher angsa, maupun Jumbleng dalam kurun waktu 6 bulan sampai
satu tahun., numpang saudara atau tetangga terdekat.
Monitoring yang dilakukan oleh Kader kesehatan dan Natural Leader secara berkala, untuk mengecek warga yang sudah membuat komitmen untuk membangun jamban setelah dilaksanakan CLTS.
Evaluasi pelaksanaan CLTS oleh Kader kesehatan yang dilakukan oleh Koordinator LKM, Kepala Desa dan Bidan Desa, dan dihadiri dari Puskesmas (Kepala Puskesmas, dan Sanitarian), dan dari lintas sector lainnya seperti PKK Kecamatan, PMD Kecamatan.

Selain dengan pemicuan, monitoring dan Evaluasi, pemicuan juga dilakukan dengan memasang
spanduk yang bersifat mengajak dan memicu kepada masyarakat untuk hidup bersih dan sehat yang ditempatkan di tempat-tempat yang strategi, yang mudah dibaca oleh masyarakat yang melewatinya.
Jamban terbangun hasil pemicuan yang dbangun oleh warga. Monitoring dan pemicuan masih tetap dilaksanakan oleh kader kesehatan yang sudah dilatih, LKM PAMSIMAS, serta komponen desa juga ikut berperan aktif untuk meningkatkan cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban,
sehingga bisa memicu masyarakat untuk menghilangkan kebiasaan BAB sembarangan.
dengan cara membangun maupun dengan cara menumpang tetangga atau saudara terdekat.
disarikan dari daisahbeny

Senin, November 29, 2010

GUNUNG JAYA, DESA ODF PERTAMA DI BREBES

Saat pelaksanaan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Indonesia ke – 46 di Kabupaten Brebes yang dipusatkan di Kecamatan Sitanggal, terlihat pemandangan yang berbeda dari pelaksanaan HKN tahun sebelumnya. Peringatan HKN ini bukan hanya dihadiri oleh seluruh komponen bidang kesehatan, tapi juga dihadiri oleh segenap stakeholder dari bidang lain, termasuk di dalamnya adalah petinggi pemerintah Kota Bawang yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan.
Namun bukan semua hal tersebut yang membedakan peringatan HKN kali ini, tetapi tampak seorang Kepala Desa berdiri dengan tegap di antara beberapa petugas kesehatan dan perwakilan sekolah yang memiliki prestasi yang baik dalam bidang kesehatan.
Dia adalah Tuswa Sujatmoko, seorang Kepala Desa Gunungjaya, Kecamatan Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah yang berada di antara barisan orang penerima penghargaan atas segala pencapaian prestasinya.
Kehadirannya sebagai salah satu penerima penghargaan karena desanya, Desa Gunungjaya berhasil memperoleh penghargaan atas prestasinya sebagai desa pertama di Kabupaten Brebes yang memperoleh predikat ODF (Open Defecation Free).
Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Kesehatan Brebes memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada masyarakat Desa Gunungjaya yang diwakili oleh Tuswa Sujatmoko, atas prestasinya membawa Desa Gunungjaya sebagai desa pertama yang masyarakatnya memiliki tingkat kesadaran dan perhatian yang tinggi dalam upaya mewujudkan stop buang air besar sembarangan (STOP BABS). Penghargaan dan ucapan selamat disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Brebes.
Muhtar selaku Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes mengatakan, penghargaan tersebut mungkin nilainya tidak seberapa. Namun yang diharapkan adalah esensi nilai sebagai rasa syukur dan terima kasih serta penghargaan setinggi-tingginya atas segala kerjasama dan kerja keras seluruh masyarakat Desa Gunungjaya dari Pemerintah Kabupaten Brebes.
“Desa Gunungjaya adalah yang pertama dan sebagai pelopor. Mudah-mudahan desa yang lain dapat terpacu dan mencapai ODF pula,” ujar Muhtar
Program Pamsimas di Desa Gunungjaya mulai bergulir pada Juni tahun 2010. Hasil kegiatan identifikasi masalah pada awal program bergulir, cakupan sanitasi di masyarakat Desa Gunungjaya sudah cukup baik. Jumlah kepala keluarga yang memiliki akses terhadap jamban sebanyak 239 atau sekitar 80% dari jumlah keseluruhan kepala keluarga di Desa Gunungjaya.
Besarnya jumlah akses jamban tersebut tidak lepas dari proses relokasi wilayah desa akibat bencana longsor. Proses tersebut memaksa masyarakat untuk membangun rumah yang baru dan lebih baik. Sehingga biasanya ketika membangun rumah baru sudah dilengkapi jamban.
Secara geografis Desa Gunungjaya yang memiliki ketinggian 750 m di atas permukaan laut itu terletak di dataran tinggi wilayah pemerintahan Kecamatan Salem. Karena termasuk wilayah perbukitan dengan curah hujan yang cukup tinggi, karakter tanah di desa ini termasuk yang labil dan mudah longsor.
Dikelilingi Hutan Perhutani dan ladang pertanian terutama sawah dimana jarak dari pusat pemerintahan kecamatan adalah 10 km atau 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor, Desa Gunungjaya memiliki jumlah penduduk sebanyak 970 jiwa dan 286 kepala keluarga (KK). Wilayah pemerintahannya terdiri dari 2 rukun warga (RW) dan 4 rukun tetangga (RT). Sebagian besar penduduknya memiliki mata pencarian sebagai petani. Memiliki 1 Sekolah Dasar (SD) dan 2 Masjid serta 1 Poliklinik desa.
Pencapaian ODF oleh Desa Gunungjaya tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Hasil ini merupakan hasil kerja keras semua pihak terutama Dian (Fasilitator kesehatan), Bidan Yuli, Sanitarian dan rekan kader kesehatan.
“Tentu saja hal ini sangat membanggakan bagi saya pribadi dan masyarakat Desa Gunungjaya. Terlebih kami yang pertama di Kabupaten Brebes yang sudah ODF,” tandas Tuswa Sujatmoko
Tuswa mengatakan, kerjasama antara bidan desa dan kader kesehatan, fasilitator kesehatan serta aparat desa berjalan sinergis. Sehingga apabila ada kesulitan, solusi bisa didiskusikan bersama.
“Saat ini jumlah jamban di Desa Gunungjaya sudah 263 jamban dan melayani 970 jiwa atau 100% penduduk Desa Gunungjaya. Sehingga status ODF sudah dicapai oleh Desa Gunungjaya. Untuk selanjutnya adalah ada langkah atau tindak lanjut dalam menjaga dan memelihara desa yang ODF,” lanjutnya
Kegiatan verifikasi pencapaian ODF desa dilakukan oleh konsultan pendamping, petugas Puskesmas, perwakilan desa dan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes. Verifikasi dilaksanakan terhadap rumah dan kepala keluarga secara acak dan dilakukan secara marathon. Verifikasi pertama dilaksanakan pada 4 Nopember 2010 oleh konsultan pendamping dengan mengunjungi 15 rumah.
Verifikasi kedua dilaksanakan pada 8 Nopember 2010 oleh petugas Puskesmas dan Konsultan pendamping. Sedangkan verifikasi yang ketiga dilaksanakan pada 9 Nopember oleh petugas Puskesmas dan tim dari Dinas Kesehatan Brebes. (Ichwanudin-HHS DMAC Kab. Brebes;Rita)