Jumat, Februari 19, 2010

PROGRAM AKSI BIDANG KESEHATAN 2010 - 2014

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2010 – 2014
BIDANG KESEHATAN (PRIORITAS KETIGA)


Kesehatan
Status Awal (tahun 2008) Target tahun 2014
a) Meningkatnya umur harapan hidup (tahun) 70,7 menjadi 72,0
b) Menurunnya angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup
228 menjadi 118
c) Menurunnya angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup 34 menjadi 24
d) Menurunnya prevalensi kekurangan gizi(gizi kurang dan gizi buruk) pada anak balita (persen)
18 menjadi <15>
Prioritas 3: Kesehatan
Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif, tidak hanya kuratif, melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan di antaranya dengan perluasan penyediaan air bersih, pengurangan wilayah kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70,7 tahun pada 2009 menjadi 72,0 tahun pada 2014, dan pencapaian keseluruhan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015.
Oleh karena itu, substansi inti program aksi bidang kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Program kesehatan masyarakat:
a. Pelaksanaan Program Kesehatan Preventif Terpadu yang meliputi pemberian
imunisasi dasar kepada 90% balita pada 2014;
b.Penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap
sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum 2014;
c.Penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 307 per 100.000 kelahiran
pada 2008 menjadi 118 pada 2014, serta tingkat kematian bayi dari 34 per 1.000
kelahiran pada 2008 menjadi 24 pada 2014;
2. Program KB:
Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan swasta
selama 2010-2014;
3. Sarana kesehatan:
Ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi internasional di
minimal 5 kota besar di Indonesia dengan target 3 kota pada 2012 dan 5 kota pada 2014;
4. Obat:
Pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional sebagai dasar pengadaan obat di seluruh
Indonesia dan pembatasan harga obat generik bermerek pada 2010;
5. Asuransi Kesehatan Nasional:
Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga miskin dengan cakupan 100%
pada 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara 2012-2014.

Senin, Februari 01, 2010

PENINGKATAN AKSES SANITASI MELALUI CLTS

Akses sanitasi
Sebagian besar rumah tangga Di Jawa Tengah menggunakan fasilitas buang air besar milik sendiri. Namun, masih terdapat 25,4% yang tidak memakai fasilitas buang air besar (Riset Kesehatan Daerah Departemen Kesehatan 2007). Hal ini menunjukkan mereka masih berperilaku buang air besar di sembarang tempat seperti sungai, kolam, kebun dan tempat terbuka.
Kenyataan lain , praktik sanitasi masyarakat masih memprihatinkan, perilaku cuci tangan pakai sabun yaitu setelah buang air besar,sebesar 12 persen; setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9 persen;sebelum makan 14 persen;sebelum memberi makan bayi 7 persen dan sebelum menyiapkan makanan 6 persen.

Kenyataan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kasus Diare bahkan terjadi kejadian luar biasa. Hasil studi WHO tahun 2007 membuktikan bahwa kejadian Diare dapat menurun sebesar 32 persen dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar 45 persen dengan perilaku cuci tangan pakai sabun, 39 persen perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Integrasi ketiga upaya tersebut dapat menurunkan angka kejadian Diare sebesar 94 persen.

Pendekatan CLTS
Belajar dari masa lalu dalam program sanitasi menunjukkan bahwa pendekatan dengan memberikan subsidi fisik kurang mempunyai daya ungkit dalam meningkatkan demand masyarakat untuk cakupan sanitasi dan perubahan perilaku. Oleh karena itu Pemerintah telah mengembangkan pendekatan sanitasi melalui Community Led Total Sanitation (CLTS). Pendekatan CLTS ini memfasilitasi pemberdayaan masyarakat untuk melakukan analisis keadaan dan risiko pencemaran lingkungan. Pendekatan ini mengutamakan penghentian buang air besar atau ngising di tempat terbuka, membangun dan menggunakan jamban tanpa subsidi. Kegiatan ini telah dilakukan di Jawa Tengah melalui Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di 30 Kabupaten dan Kota (Kecuali Kota Tegal,Surakarta, Magelang, Salatiga dan kabupaten Jepara). Masyarakat lokasi program Pamsimas didampingi oleh fasilitator masyarakat melakukan peningkatan kapasitas/kemampuan masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, melaksanakan dan mengelola kegiatannya dengan berperan secara aktif dalam setiap keputusan yang diambil. Fasilitator ini mempunyai tugas pokok memfasilitasi kegiatan penilaian, analisis dan penyusunan rencana kerja masyarakat sebagai bagian rencana pembangunan jangka menengah program air minum, kesehatan dan sanitasi (ProAKSI). CLTS sebagai bagian dari komponen peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat dan layanan hygiene dan sanitasi menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan bersama dengan masyarakat dalam upaya promosi kesehatan dan penyadaran perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.
Proses CLTS dilakukan dengan pemicuan terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa berdosa dan rasa tanggungjawab yang berkaitan dengan buang air besar di sembarang tempat, masyarakat diajak jalan – jalan berkeliling wilayah desanya untuk mengetahui kebiasaan buang air besar di sembarang tempat, menawarkan air yang tercemar tinja, pemicuan ini menghasilkan komitmen masyarakat untuk bebas dari tinja yang berserakan terutama di sungai, kebun, kolam atau berkomitmen untuk perubahan perilaku buang air besar di sembarang tempat.

Kunci keberhasilan CLTS
CLTS bertujuan untuk perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. Pelaku pemicuan menjadi lebih percaya bahwa semiskin apapun masyarakat ternyata memilki kemampuan membangun jamban.
1. Masyarakat yang telah terpicu melakukan gerakan masyarakat untuk meningkatkan akses sanitasi dengan melakukan deklarasi stop buang air besar di sembarang tempat, masyarakat membuktikan mampu melakukan pembangunan jamban tanpa subsidi. Pemicuan yang paling efektif disampaikan kepada ibu – ibu dan anak – anak sekolah
2. Fasilitator, keberadaan di tengah – tengah masyarakat, kemauan dan kemampuan dalam mendampingi masyarakat, mendorong peran masyarakat, bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan selalu memonitor perubahan perilaku buang air besar di sembarang tempat bekerja sama dengan kader, Puskesmas (dokter, sanitarian,bidan) dan aparat pemerintah di desa/kecamatan.
3. Natural leader (kumpulan individu yang mendapat kepercayaan dan memiliki pengaruh di masyarakat), mereka akan selalu aktif dalam pendampingan dan pemicuan di masyarakat memberikan motivasi kepada masyarakat termasuk lembaga keswadayaan masyarakat atau forum kesehatan desa.
4. Institusionalisasi CLTS, yaitu menjadikan CLTS sebagai bagian dari program resmi pemerintah, karena pemerintah merupakan institusi yang memiliki kewenangan mencakup wilayahnya.
maspardi@gmail.com (dari berbagai sumber)

Kamis, Januari 21, 2010

TIGA DESA LOKASI PAMSIMAS KABUPATEN KUDUS TELAH OPEN DEFECATION FREE

Kondisi sanitasi yang buruk dan ketersediaan air minum yang tidak memenuhi syarat kesehatan berkontribusi terhadap kasus penyakit berbasis lingkungan seperti Diare dan Kecacingan. Hal ini terlihat kecenderungan penderita Diare yang meningkat dan terkadang menimbulkan kejadian luar biasa bahkan kematian. Salah satu cara meningkatkan akses sanitasi dan pengendalian Diare adalah melalui kegiatan terpadu dengan pendekatan sanitasi total berbasis masyarakat. Hal ini mengingat berbagai upaya peningkatan cakupan jamban melalui proyek dan pendekatan top down tidak memberikan hasil yang memuaskan.Sanitasi total berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui Program Penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas) adalah untuk meningkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), khususnya dalam meningkatkan cakupan jamban keluarga.

Di Kabupaten Kudus untuk 2009 telah dialokasikan 15 desa menjadi lokasi Pamsimas dan tiga desa yaitu di Kecamatan Dawe yaitu Desa Japan, Colo dan Kuwukan telah menyatakan bahwa warganya telah buang air besar tidak di sembarang tempat atau telah bebas dari buang air besar di sembarang tempat (open defecation free/ODF). Hal ini dinyatakan oleh yang mewakili dari masing - masing rukun tetangga di lokasi Pamsimas tersebut dan telah dilakukan verifikasi oleh Puskesmas, Dinas kesehatan Kabupaten Kudus dan pengelola Pamsimas Kabupaten Kudus.

Semoga Kabupaten Kudus bebas dari buang air besar di sembarang tempat dapat segera terwujud, bebas dari Diare , masyarakatnya sehat.

Rabu, Januari 13, 2010

Satu Langkah Prestasi Desa Pule "Bebas Dari Buang Air Besar Di Sembarang Tempat"



Satu langkah prestasi telah ditunjukkan oleh Desa Pule Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri. Pada Selasa, 12 Januari 2010 telah dilakukan pencanangan Desa Pule "Bebas dari buang air besar di sembarang tempat (ODF/open defecation free)" oleh Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi di Balai Desa Pule Kecamatan Selogiri. Acara ini dihadiri oleh Direktur Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Dr. Sholah Imari, M.Sc, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, segenap Muspida Wonogiri, Kepala SKPD Kabupaten Wonogiri, Camat, Kepala Puskesmas, Kepala Desa, pengelola UKS se Wonogiri serta siswa SD setempat. Sambutan disampaikan oleh Direktur Penyehatan Lingkungan, yang memberikan penghargaan kepada warga desa Pule yang telah melakukan upaya pencegahan terhadap timbulanya/penularan mencret/Diare dan harapan agar program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) yang telah dikembangkan oleh Puskesmas Selogiri agar ditingkatkan pada pilar STMB lainnya.


Setelah memberikan pengarahan Bupati Wonogiri melakukan penandatanganan prasasti Desa Pule telah bebas dari buang air besar di sembarang tempat. Bupati memberikan penghargaan yang setinggi - tingginya kepada warga desa Pule terlebih kepada Bapak Mulyadi sebagai mantan kepala desa Pule yang telah menjabat 32 tahun sebagai kepala desa. Gebrakan agar setiap keluarga memiliki jamban dilakukan dengan adanya peraturan desa tentang kepemilikan jamban keluarga.

Saat ini dari 956 rumah yang ada, telah memiliki jamban closet sebanyak 946 buah, cemplung 10 buah.
Usulan desa ODF ini dari kepala desa setelah dilakukan pendataan oleh sanitarian Puskesmas, Pembina wilayah desa dan perangkat desa.

Jumat, Januari 08, 2010

Selamat Bertugas


Serah terima jabatan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dari Dr. Hartanto, M.Med.Sc kepada Dr. Mardiatmo, Sp.Rad.



Rabu, Desember 30, 2009

Sanitarian Pengusaha Jamban



Menjadi sanitarian bukan cita-cita Sumadi. Namun, Sumadi menunjukkan, pengabdian dan totalitas dalam menggauli profesi yang ibarat jatuh dari langit itu mengantarnya menuju sukses.
Melalui inovasi desain septic tank ciptaannya, Sumadi berhasil menunjukkan, jamban tak sekadar ”urusan belakang” yang remeh. Namun, lebih dari itu, jamban adalah kunci bagi peningkatan kualitas hidup yang lebih baik, terutama bagi masyarakat kelas bawah.
Berurusan dengan tinja sudah pasti menjijikkan. Tetapi, tidak bagi Sumadi yang berprofesi sebagai sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Persoalan seputar tinja bagi sanitarian—yang bertugas melakukan pencegahan penyakit masyarakat—adalah persoalan penting yang bila tidak ditangani dengan benar bisa menjadi malapetaka.
Sanitasi buruk berpengaruh terhadap kualitas kesehatan masyarakat yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat. ”Kalau mereka sakit-sakitan, uangnya habis dipakai berobat, ya miskin terus,” kata Sumadi.
Prihatin dengan rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan jamban, Sumadi melakukan survei di Desa Begendeng, Kecamatan Jatikalen, Nganjuk. Begendeng dipilih sebagai sasaran survei karena pola sanitasi masyarakatnya yang buruk. Desa ini terletak di muara Sungai Brantas dan Sungai Widas. ”Di dua sungai itulah masyarakat melakukan MCK (mandi, cuci, kakus) sehari-hari,” kata Sumadi.
Hasil survei tak jauh dari dugaan. Dari 267 rumah di Begendeng, tercatat hanya empat rumah yang memiliki jamban dengan desain septic tank berbentuk kotak. Saat itu biaya membuat jamban sekitar Rp 1,6 juta per unit. Sangat mahal bagi warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan buruh.
Sumadi kemudian berinisiatif membuat desain septic tank dengan model silindris. Model silindris lebih cocok digunakan di daerah seperti Jatikalen yang memiliki kontur tanah yang selalu bergerak.
”Model silindris jauh lebih kuat karena titik tekannya hanya satu, yaitu di tengah, sedangkan model kotak lebih gampang roboh,” jelas Sumadi. Dengan model septic tank silindris, Sumadi mampu menekan harga pembuatan jamban hingga Rp 440.000.
Meski harganya jauh lebih murah, saat diperkenalkan banyak warga yang masih ragu. Saat itu baru 10 keluarga yang tertarik memesan jamban kepada Sumadi. ”Waktu itu saya beri jaminan, kalau dalam waktu lima tahun jambannya amblek, uang mereka kembali,” kata Sumadi.
Jaminan dan harga murah yang ditawarkan Sumadi menarik minat daftar warga. Tahun 2003 pesanan jamban Sumadi terus bertambah sampai ke semua kecamatan. Kenaikan harga material hingga dua kali lipat tak membuat pesanan berkurang.
Sukses Sumadi mengampanyekan penggunaan jamban terus berlanjut. Tahun 2003 desain septic tank ciptaan Sumadi diterapkan pada proyek Stimulan Jamban Dinas Kesehatan Nganjuk di lima kecamatan, yaitu Jatikalen, Patianrowo, Lengkong, Baron, dan Sukomoro, sebanyak 100 unit.
Prinsip pengabdian
Lulus kuliah tahun 2004, Sumadi bertekad melebarkan sayap. Dia tak ingin hanya menjadi sanitarian. Sumadi membuka perusahaan pembuatan jamban bersama dua rekannya dengan nama Karya Sanitasi.
Meski menjadi pengusaha, Sumadi memegang teguh prinsip pengabdian profesi sebagai sanitarian. Misi untuk terus mengampanyekan penggunaan jamban bagi masyarakat miskin pun tetap dipelihara.
Siasat Sumadi adalah dengan memberikan diskon. Harga jamban yang semula Rp 1,3 juta didiskon hingga Rp 850.000 per unit.
”Saya memangkas keuntungan. Saya kan sudah dapat gaji. Ini bagian dari tanggung jawab saya sebagai sanitarian. Tujuan utama saya, masyarakat jadi sehat,” ujar Sumadi.
Bahkan, untuk menjangkau masyarakat sangat miskin, Sumadi meluncurkan jamban ekonomis seharga Rp 625.000 dan jamban tumbuh sehat seharga Rp 180.000-Rp 260.000. Warga juga bisa mencicil sesuai dengan kemampuan.
Strategi yang dilakukan Sumadi adalah dengan memperkecil kapasitas septic tank dari yang semula 1,3 meter kubik menjadi hanya 0,7 meter kubik. ”Yang penting masyarakat pakai jamban,” tandas Sumadi.
Hingga menjelang akhir tahun 2009, tercatat 2.600 keluarga di Kabupaten Nganjuk menggunakan jamban buatan Sumadi. Sejumlah wilayah sudah mengantre pesanan, seperti Madiun, Jombang, Kediri, Ponorogo, dan Gresik, termasuk Dinan Kesehatan Provinsi Jatim yang tertarik mengadopsi desain septic tank buatan Sumadi.
Pedagang beras
Sejak kecil Sumadi (39) dididik dan diarahkan oleh orangtuanya, pasangan Djamin dan Sakinem, untuk mengikuti jejak mereka menjadi pedagang beras. Sumadi tak pernah diizinkan meneruskan sekolahnya karena tak ada biaya. ”Pokoknya, lulus SMA saya harus jadi pedagang beras,” kenang Sumadi.
Sumadi tak bisa berbuat apa-apa. Lahir dan besar dalam keluarga miskin membuat dia harus berkompromi dengan keterbatasan. Sumadi pun terpaksa mencekokkan harga berbagai jenis beras, gabah, rendemen, hingga rumus menghitung untung rugi ke otaknya.
Namun, Sumadi adalah manusia keras hati. Semangatnya untuk mengubah nasib tak pernah pupus. Nasib rupanya memang tak bisa ditebak. Roda nasib Sumadi yang telah dirancang menjadi pedagang beras justru menggelinding ke tempat yang tak pernah terbayangkan.
Beberapa saat setelah lulus SMA tahun 1989, Sumadi tanpa sengaja melihat pengumuman penerimaan Sekolah Pembantu Penilik Hygiene (SPPH). SPPH adalah sekolah ikatan dinas selama satu tahun untuk mencetak tenaga sanitarian.
Atas restu Djamin dan Sakinem, Sumadi mendaftar ke SPPH. ”Bapak akhirnya mengizinkan karena selama satu tahun biayanya hanya Rp 500.000,” katanya.
Setahun kemudian Sumadi lulus dari SPPH. Sumadi lalu ditempatkan di Samarinda, Kalimantan Timur, selama tiga tahun. Samarinda menjadi laboratorium pertama Sumadi menggeluti profesi sebagai sanitarian.
Tahun 1994 Sumadi kembali ke Nganjuk. Sumadi bertekad mengabdikan seluruh ilmunya di tanah kelahirannya.
Pilihan Sumadi tak salah. Dengan menjadi seorang sanitarian, dia menemukan jalan hidupnya. Semangatnya untuk mengampanyekan penggunaan jamban masih terus menyala hingga mimpinya tak ada lagi keluarga yang tak memiliki jamban terwujud.
• Lahir: Nganjuk, 9 November 1970 • Pekerjaan: Sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur • Istri: Winarsih (39) • Anak: Rahma Nur Hayati (12) Alfina Nur Hanifah (6)• Pendidikan: - SD Sumber Kepuh 1 Nganjuk (1983) - SMPN Waru Jayeng, Nganjuk (1986) - SMAN 2 Nganjuk (1989) - SPPH Surabaya (1990) - Universitas Adi Buana Surabaya (2004) •

Prestasi antara lain: 1. Sanitarian terbaik tingkat provinsi dari Bank Dunia (2008) 2. Menjadi pembicara di Water Week, Swedia (15 September 2009) 3. Pelestari Lingkungan Tingkat Provinsi Jawa Timur selama 3 kali berturut-turut (2007-2009)
sumber : Kompas

Sabtu, Desember 19, 2009

5R dalam Penanganan Sampah

Persoalan sampah tak akan tuntas bila tidak dimulai dari sumbernya. Selama ini kita mengenal program 3R yakni reduce, reuse, dan recycle. Ternyata 3R saja belum cukup. Kini ada dua R lagi yang harus ditambahkan yakni replace dan rethink.
Inilah yang mengemuka dalam Green Festival di Parkir Timur Senayan, awal Desember lalu. Seperti sudah dipahami banyak orang, reduce adalah mengurangi volume sampah. Reuse adalah menggunakan kembali barang-barang yang habis dipakai seperti menggunakan kantong belanja berulang-ulang. Sedangkan recycle adalah mendaur ulang sampah untuk dijadikan barang baru, misalnya daur ulang kertas maupun plastik.
Nah, yang tak kalah pentingnya adalah replace, yaitu mulai mengganti barang sekali pakai dan barang yang tidak ramah lingkungan dengan barang yang dapat didaur ulang. Misalnya mengganti sendok plastik dengan sendok aluminium. Selain itu, rethink, yakni memikirkan kembali keputusan kita dalam membeli atau menggunakan barang. Pada saat berbelanja, sebaiknya memilih barang yang tidak boros kemasan dan ramah lingkungan seperti barang yang dikemas karton.
Konsep 5R ini memang tidak mudah diterapkan soalnya menyangkut pola pikir dan budaya. Makanya program 5R ini perlu sosialisasi secara massif dan disertai dengan perangkat kebijakan yang memungkinkan semua orang peduli sampah sejak dari sumbernya.
Selama ini masyarakat lebih suka menangani sampah manakala sampah sudah terkumpul. Misalnya dengan membakarnya. Padahal itu adalah cara yang tidak tepat karena bisa menimbulkan pencemaran udara—yakni senyawa dioksin dan furan yang menyebabkan kanker.
Penelitian membuktikan, menumpuk sampah ternyata juga tidak tepat. Onggokan sampah bila dibiarkan menghasilkan gas metana yang dua kali lebih berbahaya dibandingkan karbon dioksida. Satu ton tumpukan sampah padat dapat menghasilkan 62 meter kubik gas metana.
Karena itu, sangat tepat bila sampah dikurangi sejak di sumbernya. Mari sukseskan program 5R! Tak terlalu sulit jika kita mau.